Bagaimana Mengelola Keuangan Mahasiswa (selesai)

        Pernah tidak Anda merasa bahwa duit
di dompet selalu abis melulu? dan setiap pertengahan bulan meminta
jatah tambahan orang tua, atau mungkin bagi pengeluarannya yang
melebihi dari yang didapat (wah! yang ini mah keterlaluan), bahkan sampai minta hutang ke kanan-kiri.
        Kuncinya bukan seberapa besar dana yang kita terima, tetapi
bagaimana kita bisa mengelolanya dengan baik.
Ada teman saya yang
tinggal di Jakarta hidup dengan uang 1juta rupiah saja, ada juga yang
hanya 800 ribu, bahkan mereka tetap bisa menyisihkan sebagian uangnya
untuk ditabung. Tetapi ada juga yang pemasukan sebulannya hingga 7juta
sampai 10juta, dengan keadaan dompet di akhir bulannya kosong melompong
(bahkan gak sampe akhir bulan udah habis).
      Keuangan yang kita bicarakan untuk dikelola
nantinya adalah pemasukan yang dikuasai sepenuhnya oleh kehendak Anda,
dalam hal ini adalah pemasukan yang biasa kita terima sebagai uang
jajan, uang makan, dll. Bukan uang untuk bayar kuliah, bayar sewa kos,
sewa kontrak, pajak kendaraan dan sebagainya. Hanya sebatas uang yang
Anda kuasai penggunannya.
        Kiat- kiat yang saya berikan nanti sama sekali tidak bertujuan untuk hanya sekedar ‘berhemat’, tetapi juga bagaimana kita bisa meningkatkan gaya hidup kita walaupun dengan pemasukan yang terbatas.
        Berikut adalah solusi untuk mengelola
keuangan Anda berdasarkan pengalaman pribadi saya menjalani hidup
sebagai mahasiswa…cieee

Berikut adalah 5 kiat mengelola keuangan sebagai mahasiswa:

1. Jangan pernah Berpikir bahwa Semua ini sudah Sewajarnya
        Jangan sekali-kali berpikir bahwa pemasukan
yang selama ini didapat dari orangtua akan tetap dari waktu ke waktu.
Maksud saya adalah jangan pernah berpikir bahwa bulan depan akan ada
lagi uang jatah dari orang tua. Seringkali saya pernah mendengar
beberapa kalimat dari teman saya, "bulan ini jangan beli apa-apa deh, kan mau ganti HP baru", memang benar kalau ingin membeli sesuatu kita harus bersakit-sakit dahulu, tapi apa benar ‘jangan beli apa-apa
nya cuman sebulan.’ Ingat diatas langit masih ada langit, kita tak tahu
apa yang akan terjadi besok, berbahaya sekali kalau kita menganggap
bahwa bulan depan akan ada jatah lagi. Bagaimana kalau setelah mereka
membeli HP baru tersebut, kemudian mereka harus menjualnya kembali
bulan depan untuk membiayai hidup mereka sendiri karena orangtua mereka
‘tidak sanggup lagi.’
        Kemudian ada
yang menyangkal dalam hati, "Lho! itukan mereka, bukan saya! Orang tua
saya tajir kok" atau "Lho! itukan kewajiban orangtua membiayai
kebutuhan anaknya!" atau "Jangan pernah berpikir yang tidak -tidak,
serahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa deh!" Ingat Yang Maha Kuasa
memang menentukan nasib tetapi kitalah yang memilih seperti apa nasib
kita nantinya.
        Kesimpulannya adalah
semua bisa terjadi, melakukan persiapan lebih baik daripada tidak sama
sekali.

2. Bagi Pemasukan Anda ke dalam 3 Kategori
        Rencanakan keuangan Anda dengan melakukan pemisahan:
                1. Dana Tabungan
                2. Dana Konsumtif
                3. Dana Investasi

        Ada teman saya berkata "Tapi yang saya dapat hanya
cukup untuk membeli kebutuhan sehari- hari, ibu saya tidak pernah
memberi lebih untuk menabung, apalagi investasi."
        Pertanyaan saya kepadanya selanjutnya adalah
"Memangnya kalau nanti kerja, bos Anda mau memberi lebih untuk supaya
kamu bisa menabung dan investasi?"
      
Kemudian teman saya berkata ,"Saya sebulan hanya mendapat 1juta, apakah
saya harus menyisihkan 300ribu untuk ditabung, 300ribu lagi untuk di
investasikan, baru sisanya untuk kebutuhan sehari-hari? mana cukup!"
        Jawaban saya adalah "Anda tidak perlu membagi
pemasukan Anda menjadi 3 bagian, maksud saya adalah bagi dalam 3
kategori, dimana jumlahnya tidak harus sama besar." Ooooo..
        "Jadi Anda bisa menabung sebesar 100ribu, kemudian
investasi 200ribu, dan sisanya untuk kebutuhan sehari-hari."
        Jadi, langkah pertama adalah tentukan dulu berapa
besar pemasukan bagi tiap- tiap kategori Dana. Ini adalah contoh ratio
yang saya gunakan dalam membagi pemasukkan saya, 5% ditabung, 20%
diinvestasikan, dan sisanya 75% untuk dikonsumsi.

        Berikut kita akan membahas satu- persatu 3 kegori tersebut:
            1. Dana Tabungan                   
                  Dana
tabungan ini nantinya digunakan sebagai dana cadangan, yang akan kita
pakai pada saat ‘darurat‘ atau ‘urgent’. Memang kita
tidak akan pernah tahu kapan saat darurat ini menghampiri kita, tapi
dana cadangan tetap harus punya. Prinsip yang digunakan sama seperti
bila kita membeli payung. Tentu sebelumnya kita tidak akan pernah tahu
kapan sebaiknya payung itu digunakan? Kenapa? Karena kita tidak akan
pernah tahu kapan hari hujan, kan? Kemudian apa yang biasa kita lakukan? Ya kita kan tetap membelinya, paling tidak kita punya. Nantinya payung tersebut kita taruh satu di rumah, dan satu payung lagi di mobil.
                  Keadaan ‘darurat‘ itu seperti apa sih?
                  Menurut saya, yang namanya keadaan ‘darurat‘ adalah pada saat bila Anda tidak menyelesaikan sesuatu saat itu juga, Anda akan berada dalam MASALAH BESAR!! Misalnya seperti: bayar biaya rumah sakit, bayar hutang rentenir, bayar biaya perbaikan mobil (karena takut lapor orangtua..),
atau hal- hal lainnya yang mungkin Anda sendiri tidak pernah perkirakan
dan perhitungkan. Saya yakin Anda akan tahu sendiri seperti apa yang
disebut keadaan darurat itu, bila waktunya sudah tiba. Ingat,
mempersiapkan lebih baik daripada tidak sama sekali.
                  Besarnya?
                  Saya
sarankan Anda untuk menabung sebesar 5%-20% dari pemasukan yang Anda
terima. Tidak perlu terlalu besar, kuncinya disini adalah konsistensi
dan komitmen. Maksud saya adalah lakukan ini terus menerus, biarpun
jumlahnya kecil, itu tidak jadi masalah.
   
              Katakan dalam sebulannya
Anda berhasil menyisihkan dana sebesar Rp.50.000,- Ini berarti dalam
satu tahun Anda berhasil menyimpan sebesar Rp.600.000,- Dan dalam 5
tahun kedepan Anda sudah memiliki dana cadangan sebesar Rp.3juta. Wow!
jumlah ini nggak bisa dibilang kecil lho untuk tabungan, Anda
perlu bersyukur bisa memiliki tabungan. Banyak sekali orang, bahkan
mereka yang sudah bekerja, bergaji 5juta ke atas sebulannya tetapi pada
akhir bulan mereka tetap saja tidak memiliki dana untuk disimpan. Coba
saja tanyakan orang tua Anda "Berapa banyak teman orangtua Anda yang
memiliki nasib seperti itu?"      
             
   
         
        Permasalahan selanjutnya yang kita hadapi adalah
kebanyakan dari kita mengalami kepayahan dalam menabung, bingung
caranya, atau malah ‘niatnya sih mau nabung, tapi pas mau nabung kok dananya sudah gak ada?‘ Berikut adalah beberapa cara- cara kreatif untuk memperoleh dana tabungan:

        1. Lakukan penabungan pada hari Anda menerima ‘gaji’.
                  Seringkali teman- teman
menabung pada akhir bulan atau pada seminggu sebelum ‘gajian’ lagi, ini
namanya sama aja dengan "kalau ada sisa, gue tabung deh!"
Ingat, segera lakukan penabungan pada hari yang sama saat Anda menerima
pemasukan, ini mencegah Anda dari berbagai godaan  keuangan selama
sebulan.
        2. Beli celengan
                  Jangan dikira celengan hanya untuk anak kecil, kita ternyata juga perlu. Mensetorkan
uang ke celengan jauh lebih praktis dari pada bila kita harus bolak-
balik ke Bank. Lagipula Anda bisa kreatif dalam menambah tabungan Anda.
Ini adalah cara baru menabung yang saya coba sejak beberapa bulan lalu,
sangat mengasyikkan apalagi ketika Anda menghitung berapa jumlah uang
yang berhasil Anda tabung dalam sebulannya. Begini caranya, setiap kali
saya mendapati pecahan uang Rp.5.000,- di dalam dompet, langsung aja
masukin ke celengan. Begitu ada Rp.5.000,- lagi, masukin lagi, begitu
juga seterusnya.
        3. Jangan remehkan Uang Receh
                  Benci dengan uang receh?
Takut dompet Anda berat? Jangan tinggalkan itu di restoran, jangan
tinggalkan di meja pembayaran, jangan tukarkan dengan permen, kumpulkan
semua dirumah, masukkan kedalam toples dan kirimkan ke alamat saya. Huaahuahua
                  Jangan mentang- mentang
uang kertas lebih ringan, lebih bagus, dan uang receh lebih bau, lebih
berat, lebih kotor. Sayangnya sebagian besar dari kita, para mahasiswa,
belum merasakan bekerja bersusah- payah untuk mendapatkan uang tersebut.
                  Mari kita hitung berapa besar potensi uang receh
sebenarnya, misalkan saja Anda bertransaksi sesuatu dan menerima
kembalian uang receh sebesar Rp.200,- kemudian kalikan dengan berapa
kali Anda bertransaksi dalam sehari,  katakan 3 kali transaksi (untuk bayar makan, bayar tol, bayar parkir, dsb),
berarti seharinya Anda menerima uang receh sebesar Rp.600,- Jumlahkan
uang tersebut dalam sebulan Rp.18.000,- Jumlahkan lagi hingga setahun
Rp.216.000,- WOw! Jumlah yang tidak sedikit, Anda bisa punya sepatu
baru, atau tas baru hanya dengan uang receh.

             2. Dana Konsumtif
                  Penggunaan
Dana Konsumtif ini adalah sesederhana untuk membeli barang- barang
kebutuhan kita sehari- hari, misalnya untuk makan, untuk beli bensin,
beli pulsa, beli sabun, beli peralatan kuliah, bayar parkir, bayar tol,
termasuk juga teraktir pacar makan. Hehehehe… Saran saya adalah jangan sekali- kali mentraktir pacar (apalagi calon pacar) dengan Dana Tabungan ataupun Dana Investasi. Pacar bukanlah keadaan ‘darurat‘,
dimana kalau kita kehilangan, kita akan mengalami masalah BESAR. Pacar
juga bukan barang investasi, dimana kalau tidak menanamkan sejumlah
dana, maka hubungan Anda akan hilang. Welleh weleh weleeeeh..
                  Cukup sudah mengenai per-pacaran, kita kembali ke topik. Hanya di dalam Dana Konsumtif inilah kita bisa melakukan tindakan yang namanya ‘BERHEMAT’.  Jangan
melakukan penghematan pada sektor Dana lainnya, kecuali Dana Konsumtif.
Hemat menurut saya adalah bukan berarti setiap hari Anda harus
menyantap IndoMie pagi-siang-malam, hemat bukan juga berarti harus
menderita karenanya. Hemat menurut saya adalah membeli barang benar dengan benar. Maksud
saya adalah Anda mampu membedakan mana yang perlu Anda beli dengan yang
ingin Anda beli, pembahasan lebih detailnya ada pada kiat nomor 3.
                  Dibandingkan dengan dana- dana yang lain, dana ini adalah yang terburuk sifatnya.
                  Kenapa ‘buruk?
                  Karena dana ini tidak bisa ‘beranak‘ atau istilah kerennya doodads.
Maksud saya adalah seperti ini, misalkan pada awal bulan Anda menabung
di Bank sebesar Rp.5juta, maka pada akhir bulan saldo Anda akan ‘beranak
menjadi Rp.5.040.000,- Dan bila pada bulan berikutnya Anda tingkatkan
tabungan Anda mencapai Rp.10juta, maka pada akhir bulan tersebut Anda
akan mendapati saldo tabungan Anda sebesar Rp.10.080.000,-
Kesimpulannya adalah semakin besar Anda menabung di Bank maka semakin
besar pula kemampuan uang tersebut untuk ‘beranak’
                  
Tetapi
hal ini tidak akan terjadi pada Dana Konsumtif. Tidak peduli seberapa
besar Dana Konsumtif yang Anda miliki, karena tujuannya untuk
dikonsumsi, maka pada akhir bulan jumlah saldonya akan kembali menjadi
Rp.0,- nol. Kesimpulannya adalah semakin sedikit Dana Konsumtif Anda, maka semakin baguslah keadaan keuangan Anda.
                  Kalau begitu
kenapa tidak dihilangkan saja sektor Dana Konsumtif ini?
                  Sekali lagi,
Dana Konsumtif digunakan untuk membiayai kebutuhan sehari- hari kita.
Kita tidak bisa lepas dari yang satu ini. Sepertinya kita nggak butuh, tapi ya nggak juga. Yang bisa kita lakukan adalah dengan mengoptimalkannya dengan cara- cara yang nantinya dibahas pada kiat nomor 3.

            3. Dana Investasi
                  Dana Investasi adalah dana yang digunakan untuk diputar ke dalam suatu usaha, dimana nantinya usaha kita bisa memberikan penghasilan tambahan bagi kita. Dana Investasi inilah yang menjadi kunci dalam kiat- kiat yang saya berikan, dimana kita bisa meningkatkan gaya hidup dengan sumber pemasukan yang terbatas.
Dana Investasi jugalah yang nantinya bisa memberikan apa- apa yang kita
inginkan selain apa yang kita perlukan. Dana investasi inilah yang
menjadi payung masa depan Anda, dana ini adalah Asuransi keuangan Anda yang sebenarnya.
                  Untuk
menentukan seberapa besar dana yang perlu Anda investasikan per
bulannya, tergantung dari apa yang nantinya Anda investasikan.
Dan jangan lupa untuk tetap memisahkannya dari dompet Anda, tapi juga
jangan masukkan ke celengan. Simpan di tempat lain, masukkan ke amplop,
taruh di lemari, kunci rapat- rapat. Karena itu adalah tiket masa depan
Anda.
            
     Mengenai investasi lebih lanjut akan dijabarkan pada kiat nomor
4, tetapi yang jelas Anda tetap perlu menyisihkan sebagian dana untuk
diinvestasikan.

3. Bedakan antara yang ‘Perlu Anda Beli’ dengan yang ‘Ingin Anda Beli’
       
Pernah
ke pusat perbelanjaan? Mal, plaza, dan sebagainya? Lihat berapa banyak
orang yang menawarkan barangnya kepada Anda. Mulai dari SPG- SPG
cantik, diskon gede-gedean, etalase yang disusun rapi, tatanan
barang, desain produk nan indah, pemajangan iklan, penyebaran brosur.
Apapun yang mereka lakukan adalah semata- mata untuk memperebutkan uang
yang Anda miliki. Saran saya hanya satu, Jika Anda tidak tahu apa yang akan Anda beli, Jangan sekali- kali masuk ke pusat perbelanjaan. it’s dangerous…
       Pernah tidak Anda masuk ke salah satu outlet
kemudian melihat bahwa barang yang selama ini Anda idamkan ternyata
sedang didiskon 50%. Wow! Lalu apa yang Anda lakukan
setelahnya? kebanyakan orang termasuk saya =D dan teman- teman saya
lebih memilih untuk membelinya tanpa berpikir panjang lagi. Padahal
uang tinggal 100ribu dan ini masih tanggal 20. Hueuheuhe..
      Untuk mengantisipasi hal ini, maka kita perlu
membuat daftar pembelian barang- barang antara yang ‘Perlu Anda Beli’ dengan yang ‘Ingin Anda Beli.

Apa saja sih barang- barang yang termasuk ‘Perlu Anda Beli‘ ?
             Barang-barangnya akan bervariasi setiap
orang, tetapi mereka memiliki definisi yang serupa yaitu barang- barang yang pembeliannya tidak dapat ditunda, dan tidak dapat di gantikan. Contohnya
jika Anda seorang mahasiswa yang berbakat dan berniat serius di dalam
dunia musik, maka yang ‘Perlu Anda Beli’ adalah peralatan- peralatan
musik, buku- buku musik, ikut les musik, dan tentunya tidak lupa juga
buku-buku pelajaran, fotokopi, pulsa, bensin/biaya transport, makanan.

             Barang- barang yang termasuk ‘Perlu Anda
Beli’ ini akan bisa berubah setiap bulannya, tergantung dari apa yang tidak dapat Anda tunda atau gantikan pembeliannya
dalam bulan tersebut. Maksud saya adalah misalkan, sepatu yang biasa
Anda kenakan sudah rusak dan tidak layak dipakai lagi, maka Anda dapat
memasukkan ‘Sepatu Baru‘ dalam daftar barang yang ‘Perlu Anda Beli’ bulan ini.

Kemudian, Apa saja sih barang- barang yang termasuk ‘Ingin Anda Beli’ ?
             Barang- barang yang termasuk dalam daftar ini
juga bervariasi setiap orang, tetapi mereka memiliki definisi yang sama
yaitu barang- barang yang pembeliannya tidak mendesak, dan terdapat banyak sekali penggantinya.
Umumnya adalah seperti, rokok, HP baru, tas baru, laptop, baju baru,
ngopi di Starbucks, member fitness, member spa, dan masih banyak lagi.

             "Lho! Fitness kan penting, buat jaga kesehatan? kenapa masuk daftar yang ‘Ingin Anda Beli’ ?"
             Iya, memang benar fitness baik untuk
kesehatan, tetapi sekali lagi, ini semua tergantung dari kebutuhan
Anda. Maksud saya adalah kalau Anda seorang olahragawan dimana kalau
Anda tidak fitness maka badan Anda akan loyo semua dan
berpengaruh bagi prestasi olahraga Anda, maka Anda tidak perlu
memasukannya ke dalam daftar barang yang ‘Ingin Anda Beli’, malahan
harus dimasukkan ke daftar barang ‘Perlu Anda Beli’. Tapi kalau Anda
hanya sebagai mahasiswa, saya rasa kebutuhan akan buku-buku pelajaran,
fotokopi, pulsa, bensin/biaya transport, dan makanan jauh lebih penting
daripada sekedar fitness. Lagipula untuk menjaga kesehatan
masih ada cara- cara lain yang lebih murah dan mengasyikan daripada
harus membayar biaya untuk fitness.
             "Memangnya kalau mahasiswa nggak boleh Fitness ya?"
      Bukannya nggak boleh, hanya saja sebelum Anda
membayar member fitness, Anda perlu memperhitungkan dahulu untuk
pemenuhan kebutuhan- kebutuhan akan barang yang ‘Perlu Anda Beli’ Kalau
memang ternyata masih ada sisa, dan itu cukup, Anda boleh saja menjadi
member fitness.
             Kesimpulannya adalah apapun yang ada di dalam daftar barang yang ‘Perlu Anda Beli‘ bulan ini, harus dipenuhi dahulu sebelum Anda mencoba memenuhi daftar barang yang ‘Ingin Anda Beli‘ bulan ini.

4. Lakukan Investasi dalam Usaha/Bisnis

Apa sih Investasi itu?
       Begini, mari kita analogikan dengan kegiatan bercocok- tanam.

       "Apa yang harus ditanam oleh petani untuk mendapatkan beras?"   

       Jawabannya tak lain adalah "BERAS juga."

       Itulah yang namanya prinsip investasi. Kita akan menuai apa yang kita tanam.
Bila kita menanam beras, maka kita akan menuai beras. Bila kita menanam
jagung, maka kita akan menuai jagung. Dan bila kita menanam uang, maka kita akan menuai uang juga. Uang yang akan kita investasikan ini berasal dari Dana Investasi yang sebelumnya sudah kita sisihkan terlebih dahulu.

 Apa saja sih macam- macam Investasi itu?
      
Kegiatan ber-investasi itu dikelompokkan menjadi 2 jenis besar, yang secara gampangnya saya sebut dengan:

       1. Investasi tanpa pemasukan
            Anda pastinya kenal dengan benda bernama ‘emas’
bukan? Begini, jika hari ini Anda membeli sebatang emas maka yang Anda
harapkan adalah nilai emas semakin naik. Hingga pada saat terntentu, Anda dapat menjualnya dan menerima sejumlah uang yang lebih besar daripada saat Anda membelinya.
            Emas adalah salahsatu contoh yang baik tentang investasi tanpa pemasukan.
Dan masih banyak contoh-contoh lainnya, seperti surat-surat
berharga(obligasi, saham), tanah, lukisan, perangko, dan masih banyak
lagi.
            Intinya adalah bahwa investasi tanpa pemasukan hanya akan dapat menghasilkan bila Anda menjual barang tersebut.
          Investasi semacam ini
tidak saya sarankan untuk dilakukan para mahasiswa, karena selain modal
pembelian barang investasi jenis ini terlampau mahal, dan untuk
menghasilkan, Anda diharuskan untuk menjual kembali barang investasi
tersebut, yang berarti bahwa Anda akan kehilangan sejumlah aset seiring
dengan bertumbuhnya pemasukan yang Anda dapat.

        2. Investasi dengan pemasukan
      

   Jenis investasi ini memiliki konsep yang sama sekali
berbeda dengan jenis investasi sebelumnya. Investasi ini memberikan
pemasukan seiring dengan bertumbuhnya nilai aset yang Anda miliki.
          
Begini
mudahnya, katakan si Joni membeli satu unit ruko untuk ia sewakan
dengan harga 2,5 juta sebulannya. Hal ini berarti bahwa pada bulan ke-2
dan bulan- bulan setelahnya, Joni akan mendapatkan pemasukan sebesar
2,5 juta sebulannya. Dan bila ia membeli satu unit lagi ruko pada bulan ke-2 untuk disewakan dengan harga yang sama, berarti
pada bulan ke-3 dan bulan- bulan setelahnya, Joni akan mendapat
pemasukan sebesar 5 juta.
      
    Kesimpulannya adalah semakin bayak ruko yang Joni
miliki, maka semakin banyak pemasukan yang Joni terima. Dan konsep
investasi inilah yang saya sarankan para mahasiswa untuk dilakukan.

     Bentuk investasinya?
          Bentuk Investasi dengan Pemasukan sering kita kenal dengan istilah berbisnis atau berusaha. Dimana yang dilakukan oleh para pebisnis atau pengusaha adalah membangun aset. Semakin banyak aset yang berhasil mereka bangun, maka semakin besarlah pemasukan yang mereka terima.
          Kegiatan berbisnis atau
berusaha ini sangat beragam. Maksud saya adalah SANGAT-SANGAT BANYAK
SEKALI JENISNYA…!!??
         
Anda bahkan dapat memilih jenis- jenis usaha/bisnis dalam hal
apapun yang Anda senangi.
      
   Bagi mereka yang senang dengan berkebun, mereka bisa
membuka usaha mulai dari beternak tanaman- tanaman hias, jasa desain
taman, berjualan peralatan kebun, jasa penyemprotan pestisida, dan
sebagainya.
          Bagi mereka yang senang dengan mobil,
mereka bisa membuka usaha mulai dari bengkel mobil, pemasangan audio,
mendesain body mobil, pengecatan/pengkilapan, jasa cuci mobil,
berjualan item interior, berjualan sabun cuci mobil, distribusi oli,
bahkan sampai berjualan asuransi, dan sebagainya.
            
Karena
begitu banyak jenis usaha yang dapat kita lakukan, maka pada poin
berikutnya saya akan memberikan beberapa tips dalam memilih usaha/bisnis bagaimana yang tepat untuk dilakukkan oleh para mahasiswa,

 Usha/Bisnis yang bagaimana yang ‘tepat’ kita lakukan?
       Seperti yang sudah saya
bahas sebelumnya bahwa, sebenarnya Anda dapat memilih usaha/bisnis
apapun yang Anda senangi. Sayangnya yang Anda senangi belum tentu tepat untuk Anda. Berikut ada 3 tips dalam memilih usaha yang tepat,

       1. Lakukan Usaha yang TIDAK menuntut Waktu Kuliah/Belajar
               Tentunya
Anda tidak akan mau kuliah Anda berantakan hanya karena Anda sedang
merintis sebuh usaha, bukan? Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah
tentukan dahulu kapan Anda kuliah, dan kapan Anda belajar. Sehingga
kemudian Anda bisa tahu kapan sebaiknya Anda meluangkan waktu untuk
menjalankan usaha Anda. 

       2. Lakukan Usaha yang memiliki Mentor
               
Kenapa
saya menyarankan Anda untuk memilih usaha yang memiliki mentor? atau
paling tidak ada orang yang mau membimbing Anda menjalankan usaha
tersebut? Begini, untuk membangun sebuah usaha yang sukses, apapun itu,
yang perlu Anda punyai adalah pengalaman membangunnya hingga berhasil.
Betul?
                Nah, sekarang Anda memiliki dua
pilihan. Pertama adalah Anda melakukannya sendiri, Anda amati sendiri,
Anda belajar sendiri, Anda jatuh- bangun, jatuh lagi, bangun lagi,
jatuh lagi, bangun lagi…, begitu seterusnya sampai Anda tahu resep
sukses yang sebenarnya. Ini bener lho, hampir bisa dikatakan tidak ada seorangpun didunia yang berhasil membangun usahanya dalam sekali coba. Ini sama halnya seperti Anda berjalan dengan mata tertutup tanpa ada yang membantu. Tentunya Anda akan kejedug dimana- mana, bukan?
                Pilihan kedua adalah Anda meminta
bantuan mentor, yaitu orang yang sudah berhasil dalam membangun usaha
yang sedang Anda jalani. Para mentor tentunya sudah mengalami
jatuh-bangun dalam usahanya sendiri. Dengan belajar dari pegalaman
orang yang lebih sukses, Anda tidak perlu lagi mengalami jatuh-bangun,
Anda menjadi tahu apa- apa saja yang sebaiknya dilakukan dan tidak
dilakukan, mata Anda tidak tertutup lagi, ada orang yang menggandeng
tangan Anda keluar dari kesesatan. Wow, bukankah ini lebih efektif menghemat modal, waktu, dan upaya, daripada harus mencari- cari cara sukses sendirian.

       3. Lakukan Usaha yang Bener
               
"Loh memangnya ada ya usaha yang nggak bener?"

                Buanyak
bangeet…
                Contohnya, pengedar narkotik, minuman
keras, usaha rentenir, taruhan (bola, kartu, apapun deh), terlibat money game, ngikutin kuis/undian berhadiah, dan masih banyak lagi.
          
     Sekali lagi,
bukannya saya melarang Anda melakukan salah satu usaha investasi
diatas. Tapi ya mbok mikir sedikit, sudah susah- susah ngumpulin dana investasi, ya jangan dipakai buat usaha yang nggak jelas nasibnya begitu.
      
Kenapa sih kita perlu Investasi?
       Ada banyak sekali alasan yang bisa saya berikan kenapa Anda perlu melakukan investasi. Tetapi hanya ada 2 hal yang terpenting "Kenapa kita, para mahasiswa, perlu melakukan investasi." Berikut adalah kedua alasan tersebut :

 

        1. Investasi untuk Belajar
      
        "This is the real world.
               You really have to give up what you like to get what you want."

               Belajar
nggak cuman dari kuliah saja, bukan? Disinilah wadah sebenarnya Anda
semua belajar menghadapi kehidupan yang sebenar- benarnya. Tidak ada
salahnya bila kita memulai lebih dulu daripada yang lain. Dengan begitu
kita sudah satu langkah lebih maju daripada rata- rata mahasiswa
lainnya.

        2. Investasi untuk Penghasilan Tambahan
               Pernah
tidak sekali- kali Anda berangan- angan untuk membeli tas baru, HP
baru, atau sekedar untuk makan di restoran tiap akhir minggu, atau
mentraktir pacar ke restoran mewah, atau mungkin, saya tahu, pastinya
ada diantara Anda ada yang ingin melakukan kegiatan beramal, atau bagi
mereka yang ingin melanjutkan studinya hingga S2/S3. Saya tidak tahu
apa keinginan Anda, yang sampai hari ini dengan terpaksa harus dipendam
karena keterbatasan dana. Segera tuliskan di buku, apa- apa saja yang
Anda inginkan selama ini. Kenapa? Karena Anda memiliki peluang untuk
mendapatkannya dengan melakukan suatu usaha.

              "Memang seberapa besar sih yang bisa dihasilkan oleh mahasiswa dengan usaha sampingannya?"
             
Jawabannya adalah tergantung dari usaha apa yang Anda lakukan, dan
seberapa besar kerja keras Anda membangunnya.
               Teman saya
ada yang beternak kelinci/hamster jenis tertentu, dimana setiap ekornya
dapat dijual ke petshop seharga Rp.50.000- Rp.100.000.
               Ada juga yang
beternak Anjing dari Jepang, yang tiap ekor anaknya dapat dijual ke
petshop seharga Rp2juta-an.
               Ada juga yang
membuka restoran, membuka jasa cuci mobil, membuka supermarket retail
dan sebagainya. Yang tentunya modalnya didapat karena join dengan orang
lain, dimana potensi penghasilan per bulannya mencapai puluhan jutaan
rupiah.
               Dan ada juga yang sedang merintis usaha network marketing.
Uniknya, modal yang diperlukan diusaha yang satu ini tidak terlalu
besar, tetapi memiliki potensi penghasilan per bulannya hingga puluhan
juta rupiah.

5. Hindari Berhutang
       Kiat yang terakhir adalah sebisa mungkin hindari berhutang. Saya tidak mengatakan bahwa berhutang itu tidak baik, hanya saja belum perlu.
Ingat selalu sebelum Anda berhutang, pastikan Anda konsultasi dengan
orang yang tepat, apakah hutang tersebut benar- benar diperlukan. Jika
iya, silahkan saja Anda berhutang.
       Tetapi dari pegalaman saya sebagai
mahasiswa, kebanyakan hutang adalah digunakan untuk hal- hal kosumtif.
Hal inilah yang sebenarnya berbahaya. Menggunakan hutang untuk pembelanjaan barang yang bersifat konsumtif sebaiknya dihindari.
        Kenapa? Alasanya sederhana. Karena barang konsumtif tidak akan menghasilkan return.
Ini adalah kebalikan dari investasi. Dimana kalau kita melakukan
investasi, kita mengeluarkan bertujuan agar kembali lebih banyak.
Tetapi tidak untuk hutang yang bersifat konsumtif. Tidak peduli berapa
banyak atau sedikit hutang Anda, yang jelas pada akhirnya Anda tetap
tidak menerima apa- apa selain tagihan hutang itu sendiri.
        Jika Anda sekarang sedang terlibat hutang dengan teman, atau siapapun, segera lunasi itu. Prioritaskan pemasukan Anda untuk membayar hutang terlebih dahulu.
Jangan sampai Anda kehilangan orang- orang yang Anda kenal, hanya
karena sekedar hutang. Ingat, relasi tidak dapat dibeli dengan uang.
Anda bisa mendapatkan uang kapanpun Anda mau, tapi tidak untuk relasi.
 

==============================================================================

n.b : Puji Tuhan. Akhirnya setelah 3 minggu, blog ini selesai juga. Awalnya sih nggak
kepikiran nulis beginian, tapi tiba- tiba saja muncul ide menarik untuk
bisa dibagikan kepada kawan- kawan sesama mahasiswa. Hehehehe…
Terima kasih buat teman- teman yang sudah memberikan komplimennya. Oh
ya, bagi teman- teman yang mau sharing pengalamannya dalam mengelola
keuangan pribadinya? atau yang mau bertanya ? kolom komen dibawah masih
terbuka untuk Anda.
Satu catatan lagi, semua kiat- kiat yang saya tuliskan diatas TIDAK HARUS Anda taati semua. Maksud saya adalah Anda tetap perlu konsultasi kepada orang yang paling mengerti keadaan keuangan pribadi Anda, dalam hal ini yaitu orang tua Anda.

Wew, anyway thank you for spending your time reading my blog.

See you at the top,

Evan

10 Responses to “Bagaimana Mengelola Keuangan Mahasiswa (selesai)”

  1. Lu Says:

    Good Blogs, I’ll wait the next huehuheuhe….

  2. Phenk Says:

    Hemat tidak sama dengan pelit……
    solusi dari saya adalah multiple source of income…
    Jgn harap gaji tok..
    berpenghasilanlah dari seluruh KUADRAN tetapi lebih fokus lar di kuadran B dan I

  3. ' Danis Sie ' Says:

    haha.. keren keren…

  4. Priscilla Says:

    Wow luar biasa tips nya..Materinya berbobot tapi bisa dibuat funky. Waktu saya baca blog kamu, saya teringat seorang pakar finance yang bernama Prof. Roy Sembel. Sepertinya Evan bakal jadi penerus pak Roy Sembel nich..hehehe…

    Ok, tentang mengatur keuangan, jujur aja aku masih rada kacau. Uang sich ga pernah defisit (selalu cukup untuk sebulan), tapi kalau udah akhir bulan hidup serba harus pas-pasan. Hal tersebut dikarenakan keinginan untuk beli barang pada saat terima gaji. Padahal seharusnya adalah beli barang pada waktu akan menerima gaji di periode selanjutnya.

    Pepatah “next time better” sangat aku anut, karena dalam hal keuangan, aku senantiasa berusaha untuk selalu bertindak lebih baik dalam pengaturan keuanganku di periode berikutnya.

    Sukses selalu buat Evan. Semoga kamu sukses dalam memotivasi banyak orang mengenai pengaturan keuangan.

  5. eRna Says:

    OK.
    Giliran gw yang coment..
    “EVAN”
    “THE WINNER BLOGS OF THE MOUNTH”

    Nah…. ini dia Blogs yg menurut gw berguna BUangeet buat para komunitas yg “bertangan panas” yg ga bisa ngeliat duit nganggur termasuk gw….

    bwat evan gw acungin 5 jempol dech bwt U….

    Gw coba dech ngikutin saran Lo..
    tpi agak susah juga sech nahan diri klo Lingkungannya ga mendukung….

    Tapi gw HARUS COBA!!!!!

  6. Andreaz Says:

    Shit dude! Just what I need!!

  7. Andreaz Says:

    Damn mate… write a book or sumthin.. i sense a best-seller here.. hahaha.. you definitely got the talent..

  8. vera Says:

    ehm…
    keren.. keren..
    thanks loh buat bagi-bagi ilmunya.. hehe..

    waduh, bakal jadi penerus oom ciputra neh.. hehe..

    terus cari tips.. en bagi terozz.. =p

  9. danny Says:

    bagus-bagus, jadi bisa ngatur pengeluaran..
    n truz kasi blogs yg berguna..

  10. Gary Says:

    bukannya ini tips nya savir senduk? hehe

Leave a Reply