10 KESALAHPAHAMAN TENTANG SUKSES

March 8th, 2008 by fuhrer

10 KESALAHPAHAMAN TENTANG SUKSES

Kesalahpahaman 1
Beberapa orang tidak bisa sukses karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain.

Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan.
Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian melakukan sesuatu untuk mencapainya.

Kesalahpahaman 2
Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan.

Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana
kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu
untuk kedua kalinya.

Kesalahpahaman 3
Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90…) seminggu.

Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja. Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.

Kesalahpahaman 4
Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan.

Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan
cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan,
tetapi di saat lain andalah yang membuat aturan itu.

Kesalahpahaman 5
Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses.

Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum. Justru,
dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantu
keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam
itu.

Kesalahpahaman 6
Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses.

Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan. Namun, diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan penerapan.

Kesalahpahaman 7
Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang.

Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang
diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.

Kesalahpahaman 8
Sukses adalah bila semua orang mengakuinya.

Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan
dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya anda
sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.

Kesalahpahaman 9
Sukses adalah tujuan.

Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan goal
anda. Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan, maka ajukan
pertanyaan "atas
hal apa?"

Kesalahpahaman 10
Saya sukses bila kesulitan saya berakhir.

Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan. Anda tetap harus
melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami di masa-masa lalu.
Nikmati saja apa yang telah anda raih dan hidup setiap hari sebagaimana
adanya.


(diadaptasi dari "The Top 10 Misconceptions About Success", Jim M. Allen.
CoachJim.com)

Is Entrepreneurship for Me?

November 2nd, 2007 by fuhrer

Sudah tentu ini bukan karya tulis yg dengan sengaja saya buat untuk dimuat di dalam blog. Ini adalah tugas individual mata kuliah Kewirausahaan yang saya kerjakan 8 jam sebelum tugas ini diserahkan.
Tugas ini memiliki tujuan untuk menyatakan apakah saya, penulis, memiliki keinginan untuk bergerak di bidang kewirausahaan/entrepreneurship.
Memuatnya di dalam blog ini, saya tidak berpikir bahwa ini adalah tulisan yg layak ditampilkan, saya juga tidak berpikir bahwa Anda perlu membacanya, saya hanya memiliki pemikiran bahwa ada baiknya untuk membiarkan ide-ide yg kita miliki "terbang bebas".

Sekali lagi, apapun yg telah saya tulis adalah sebuah bentuk pemikiran. Anda tidak harus merasa sependapat denganya. Selamat membaca…
———————————————–

Is Entrepreneurship for Me?
Banyak Orang Memiliki Pekerjaan dan Bukannya Berwirausaha
Seperti yang kita semua tahu bahwa di dalam sebuah organisasi perusahaan hanya ada sedikit pemilik, dan sisanya adalah pekerja. Jumlah orang yang berkerja pada perusahaan beratus-ratus kali lipat jumlahnya dibandingkan mereka yang memiliki perusahaan tersebut. Kemanapun saya pergi, 90% orang yang saya temui adalah pekerja. Mulai dari pembantu rumah tangga, tukang, satpam, salesman, broker, pekerja kantoran, professional, guru, dosen, dst. Walaupun semua orang memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan, tetapi fenomena yang terjadi adalah banyak orang memiliki pekerjaan dan bukannya berwirausaha.
Mengapa kebanyakan orang memilih untuk menginjakkan karier di perusahaan? Alasan yang pertama adalah karena menginginkan jaminan pekerjaan. Mereka menginginkan mendapatkan penghasilan yang tetap, tanpa harus mengambil resiko untuk menjadi rugi seperti yang dialami oleh para usahawan. Mereka juga mengharapkan adanya kompensasi dan jaminan untuk masa pensiun mereka, dimana para usahawan tidak mendapatkannya.
Dengan melakukan job desknya dan dengan menambah jam kerja, mereka berpikir bahwa mereka bisa mendapat kenaikan gaji secara kontinu dari tahun ke tahun. Oh benar, hal ini pasti akan terjadi di awal masa karier mereka, paling tidak lima sampai sepuluh tahun. Tetapi ingatkah bahwa kita semua hanya memiliki 24 jam dalam sehari. Yang ingin saya katakan adalah pada suatu saat mereka, yang bekerja sebagai professional di kantor, akan tidak dapat lagi menambah jumlah jam kerja mereka.
Dan apa yang kemudian terjadi? Jika Anda adalah seorang professional, Anda pasti tahu apa yang akan terjadi kemudian. Hal yang pertama adalah, para professional tersebut akan mulai berhenti mendapatkan berbagai macam promosi di perusahaannya, mendapat penghargaan dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan penghasilan mereka? Di suatu saat, pada suatu titik di karier mereka, mereka mendapati penghasilan mereka mencapai  tahap maksimum dan tidak akan mengalami kenaikan yang signifikan sampai akhirnya mereka dipensiunkan.
Alasan yang kedua, dan yang saya pikir merupakan alasan terkuat mengapa masih banyak orang memilih menjadi seorang professional adalah karena mereka sudah disiapkan menjadi seorang karyawan. Oh, apa maksudnya itu? Maksud saya adalah tidakkah Anda ingat ketika Anda kecil apa yang orangtua Anda katakan “Sekolah yang tinggi, dan dapatkan pekerjaan bagus.” Bayangkan dunia kita di dominasi oleh pemikir kecil seperti itu. Dari kecil sampai besar semua orang berkata sama “sekolah yang tinggi, dan dapatkan pekerjaan bagus.” Mulai dari saudara, guru, teman, mereka mem-brainstorm lingkungannya dengan asumsi bahwa untuk bisa hidup mapan, kita perlu mendapat gaji yang cukup dari pekerjaan yang bagus. Dan satu-satunya cara untuk mendapat pekerjaan yang bagus adalah dengan sekolah yang tinggi.
Saya yakin bahwa memang ada beberapa orang yang Anda temui tidak berkata seperti itu, mereka mungkin berpikir sebaliknya untuk menjadi usahawan. Jadi apa yang membuat kebanyakan orang mengatakan “sekolah yang tinggi, dan dapatkan pekerjaan bagus?” jawabannya sesederhana karena mereka adalah juga seorang professional/karyawan. Orangtua kita, teman-teman, guru adalah seorang karyawan, dan mereka dididik untuk berpikir menjadi karyawan. Kurangnya pendidikan sebagai wirausaha di negara memperbesar tembok penghalang untuk melihat dan bergerak menjadi seorang wirausaha.
Alasan yang terakhir, yang juga alasan kenapa walaupun orang sudah menyadari bahwa menjadi wirausaha itu lebih baik tetapi tidak juga segera berpindah profesi, adalah karena mereka memiliki pola pikir ‘bekerja untuk uang’ dan bukannya ‘bekerja untuk belajar’. Memang benar bahwa alasan utama kenapa seseorang melakukan pekerjaan adalah agar mereka mendapat upah dimana upah tersebut dapat menghidupi diri dan keluarga mereka. Tetapi jika mereka bersikeras untuk berpikir dengan pola ‘bekerja untuk uang’ maka hal ini akan menutup penuh kesempatan mereka berubah menjadi seorang entrepreneur. Berikut adalah beberapa efek negatif dari pola pikir ‘bekerja untuk uang’:
•    Menginginkan untuk melakukan pekerjaan sesedikit mungkin dengan mendapat upah sebanyak mungkin,
•    Uang cepat menjadi prioritas utama,
•    Berpikir konsumtif,
•    Berpikir bahwa menabung adalah cara terbaik menumpuk kekayaan,
•    Menghindari resiko investasi, tidak berani rugi.
Kemudian apa yang terjadi bila seseorang menggunakan pola pikir ‘bekerja untuk belajar’? Berikut adalah efek positifnya:
•    Fokus utama berpindah dari ‘bagaimana mencari uang’ menjadi ‘bagaimana menciptakan kekayaan,’
•    Mau belajar untuk menjadi berhasil,
•    Berani mengambil resiko, dan mencoba tantangan baru,
•    Berani keluar dari zona kenyamanan untuk berada di lingkungan yang sama sekali baru.
Saya yakin sekali bahwa untuk hidup di dunia ini, Anda atau siapapun dia, tidak diharuskan untuk menjadi seorang wirausaha. Saya sangat setuju sekali bahwa wirausaha bukanlah satu-satunya jalan untuk menciptakan kekayaan. Dan dengan alasan-alasan yang saya paparkan di atas, saya tidak ingin mengatakan bahwa menjadi seorang professional/menjadi seorang karyawan adalah hal yang buruk untuk dilakukan. Saya sangat menghormati orang-orang yang bekerja sebagai professional di kantor. Ayah saya adalah juga seorang professional di kantornya, beliau sangat respek pekerjaannya dan sangat bertanggung jawab menyelesaikan semua tugas yang diberikan kepadanya. Ayah saya seorang pekerja keras, saya tahu beliau melakukan itu karena rasa sayangnya terhadap keluarganya. Saya sangat bangga sekali dengan ayah saya.

Problema sebagai Professional di Perusahaan
Bukannya saya tidak ingin menjadi seorang professional yang bekerja di kantor, saya hanya ingin menghindari berbagai problema yang biasa dihadapi oleh para professional di tempat mereka berkerja. Problema-problema ini sungguh mengerikan bagi saya. Berikut adalah beberapa problema yang biasa dialami oleh mereka semua yang bekerja pada sebuah pekerjaan:
1.    Upah/jam x Jumlah jam = Penghasilan
Kunci keberhasilan untuk bekerja di kantor adalah bekerja lebih keras dan lebih lama. Semakin tinggi jabatan seorang professional, maka semakin besar tanggung jawab mereka dan semakin banyak waktu yang harus mereka devosikan untuk perusahaan mereka. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa kita semua hanya memiliki 24 jam setiap harinya dan tidaklah mungkin untuk mendevosikan semua waktu yang ada untuk kepentingan perusahaan. Dan bila pada akhirnya mereka sampai pada sebuah posisi dimana mereka dituntut untuk lebih banyak lagi meluangkan waktunya untuk perusahaan, maka yang terjadi adalah: mereka membawa pulang pekerjaan kantornya, berkerja lembur sabtu dan minggu, membatalkan acara keluarga, membatalkan undangan pesta pernikahan, membatalkan menghadiri pesta ulang tahun anak mereka, membatalkan acara liburan sekolah anak, dsb.
Apakah seperti itu gaya hidup yang diinginkan? Saya rasa bukan.
Mungkin Anda berpikir bahwa penulis melebih-lebihkan hal di atas. Oke, anggap saja mereka bekerja normal 7 jam sehari, senin sampai jumat. Apakah bekerja dari senin sampai jumat, dari jam 8 sampai jam 5, dimana setelah itu sesampainya di rumah hanya menonton tv saja dan kemudian tidur, lalu sabtu dan minggu menjadi hari bersama keluarga, adalah gaya hidup yang diinginkan setiap orang? Tidakkah kita semua lebih senang menghabiskan waktu dengan keluarga bukan hanya di hari sabtu dan minggu saja? Tidakkah lebih mengasyikkan apabila kita dapat meluangkan waktu dengan keluarga sepanjang tahun? Membina hubungan dengan istri/suami, dengan anak-anak lebih lama ketimbang bekerja di kantor? Ya, saya rasa itu adalah kondisi yang berharga untuk dicapai.
Kemudian bagaimana dengan kondisi kesehatan para professional, yang bekerja 7 jam sehari, tersebut? Apakah mereka akan tampak seperti atlit berbadan tegap yang setiap hari berolah raga dan makan teratur? Ataukah mereka akan terlihat kelelahan, berjalan bungkuk, kurang olahraga, dan tidak menjaga pola makan? Apa yang akan terjadi bila mereka akhirnya tidak sanggup bekerja lagi? Oh sudah tentu mereka akan dipensiunkan, memang siapa yang mau menggaji seseorang yang tidak bekerja. Dan penghasilan mereka mulai hilang.
Apakah seperti itu keadaan hidup yang diinginkan? Saya rasa bukan.
Dengan penghasilan yang nihil, bagaimana mereka menghidupi keluarga mereka? Ataukah mereka berharap dari tunjangan perusahaan? Ataukah mereka menggantungkan kepada istri/anak mereka untuk dapat menggantikan posisi mereka? Oh betapa mengerikan untuk membanyangkan semua hal tersebut.
Lalu apa solusi dari permasalahan ini? Kewirausahaan menjawab. Nah, kemudian pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah kenapa tidak banyak orang berpindah menjadi wirausaha? alasan-alasan ini telah dibahas lebih dahulu di bagian sebelumnya.
2.    Berada di bawah kendali
Sejak para peniti karier menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan, mereka sadar bahwa mereka akan diberi upah, dan akan diminta tanggung jawabnya untuk memenuhi tuntutan perusahaan. Mereka menjadi terikat satu sama lain dengan perusahaan. Mereka akan merasa bersalah apabila tidak memenuhi perintah perusahaan. Yap, tepatnya mereka dikendalikan oleh perusahaan. Ini bukanlah hal yang buruk yang harus dihindari, ini hanyalah konskuensi dari bekerja pada perusahaan.
Saya rasa tidak ada satu orangpun yang hidupnya dikendalikan oleh orang lain. Kita semua menginkan kebebasan untuk mengarahkan hidup kemanapun yang kita mau. Lalu apa solusi untuk masalah ini? Sekali lagi, kewirausahaan menjawab.
3.    Rutinitas kerja
Tidakkah Anda membayangkan betapa membosankannya hidup bagi mereka yang berkerja pada perusahaan. Pergi pagi pulang petang pengahasilan pas-pasan potong pajak potong pinjaman. Setiap hari berangkat jam 7 pagi, naik angkutan, macet, pulang jam 6 malam, macet, mandi, makan, nonton tv, tidur. Esoknya hal yang sama terulang lagi, berangkat jam 7 pagi, naik angkutan, macet, pulang jam 6 malam, macet, mandi, makan, nonton tv, tidur. Banyangkan hal yang sama dilakukan lima hari berturut-turut. Kemudian datanglah hari sabtu, oh leganya, mereka bisa menghabiskan waktu bersama keluarganya, piknik ke puncak, jalan-jalan ke mal, ke dufan, makan di restoran. Kemudian datanglah hari minggu, hore masih libur. Habiskan waktu sekali lagi bersama keluarga, pergi ke gereja sama-sama, olahraga bersama, belanja di mal, hingga akhirnya berakhirlah hari minggu. Dan mulailah lagi hari senin yang membosankan.
Tidakkah Anda membayangkan kejadian seperti ini diulang terus menerus selama satu bulan? Satu tahun? Lima tahun? Sepuluh tahun? Atau mungkin sampai mereka tidak sanggup bekerja lagi? Tidak, tidak, tidak, tidak dan tidak. Bukan ini yang diinginkan setiap orang. Lalu apa solusi untuk masalah ini? Untuk ketiga kalinya, kewirausahaan menjawab.
4.    Tututan perusahaan
Ketika para professional di kantor menginjak umur 40 dengan posisi yang mapan dan dengan pengorbanan kepada perusahaan yang selama ini telah mereka buat, apakah hal ini membuat perusahaan tidak berpikir untuk menggantikan jabatan professional 40 tahun tersebut dengan professional baru yang lebih muda, lebih bersemangat dan mau bekerja dengan upah yang lebih rendah? Oh ya, kemungkinan itu jelas ada. Posisi mereka mulai tidak aman dengan ancaman tersebut.
Saya mau menghindari permasalahan seperti ini, apa solusinya? Untuk kesekian kalinya, kewirausahaan menjawab.
5.    Masa pensiun
Tidakkah Anda menyadari bahwa tidak banyak orang yang mampu bertahan hidup lama setelah mereka pensiun? Hal ini bukan terjadi karena usia ataupun kondisi kesehatannya. Hal ini terjadi karena secara seketika mereka kehilangan lingkungan sosialnya.
Di jaman yang serba sibuk ini, seseorang menghabiskan lebih banyak waktu di perusahaan ketimbang dengan keluarganya. Mereka membangun relasi dengan kolega-koleganya di kantor. Mereka dihargai dan dihormati dengan posisinya yang sudah mapan di perusahaan mereka berkerja. Tetapi karena semua penghargaan dan penghormatan didapatkan karena perbedaan jabatan/posisi pekerjaan, ketika mereka pensiun secara otomatis jabatan/posisi pekerjaan tersebut lepas dari diri mereka. Karena itu lepas jugalah mereka dari penghargaan dan penghormatan yang telah diberikan. Mereka juga kehilangan relasi-relasi dengan koleganya.
Saya mau dihormati sebagai manusia seutuhnya dan bukan sebagai pemegang jabatan. Apa solusinya? Anda tentu sudah menebak jawabanya. Ya, kewirausahaan menawarkan solusinya.

Apa Itu Kewirausahaan
Cukup informasi tentang Rich Dad Poor Dad dan bagaimana saya mengenal kewirausahaan. Saya mulai lagi dengan mendefinisikan pengertian kewirausahaan. Definisi kewirausahaan menurut Howard Stevenson (Howard H. 2007, iv):
Entrepreneuship is often defined as the creation of new enterprises. We agree that the formation of a new venture is typically an entrepreneurial act.
Menurut Howard Stevenson kewirausahaan/entrepreneurship adalah tindakan untuk membuat usaha baru. Saya tidak bisa tidak setuju dengan ini. Karena memang benar tindakan membuka usaha baru sangat identik sekali dengan kewirausahaan. Berjualan bakso, martabak, membuka toko, menyewakan rumah, hingga memiliki franchise atau perusahaan adalah sebuah bentuk dari kewirausahaan.
Lalu, mungkin Anda bertanya apakah kewirausahaan merupakan jawaban dari kesibukan pekerja/professional perusahaan? Kalau saja mereka mengganti pekerjaan mereka menjadi wirausaha dengan membuka toko dimana mereka juga harus meluangkan waktu seharian penuh untuk menjaga toko, lalu apa bedanya dengan bekerja di kantor yang juga perlu meluangkan waktu? Sebenarnya kewirausahaan yang Anda definisikan berbeda dengan kewirausahaan yang saya definisikan sejak awal. Oleh karena itu saya membedakan dua jenis kewirausahaan, menjadi:
1.    Wirausaha tanpa sistem
Jenis wirausaha ini disebut oleh Robert Kiyosaki dalam bukunya Cashflow Quadrant sebagai small business. Di dalam jenis wirausaha ini, pemilik adalah kunci utama kesuksesannya. Pemilik memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh semua karyawannya. Hal ini mengharuskan pemilik untuk berada pada tempat kerja sepanjang waktu. Karena jika tidak, maka usaha tersebut tidak akan berjalan baik. Jadi bila Anda menemui orang yang memiliki toko/restoran/bengkel/usaha lainnya dimana mereka sebagai pemilik masih harus berada di tempat kerja entah karena alasan pengawasan, kemampuan, pengetahuan, maka mereka termasuk ke dalam golongan wirausaha tanpa sistem.
Wirausaha jenis ini tidak ada bedanya dengan berkerja di perusahaan atau berkerja pada orang lain. Karena, sebagai pemilik, mereka masih mengikatkan waktunya ke tempat kerjanya. Ini bukan jawaban untuk kebebasan waktu dan bertindak.
2.    Wirausaha dengan sistem
Jenis wirausaha ini disebut oleh Robert Kiyosaki dalam bukunya Cashflow Quadrant sebagai business owner. Di dalam usaha ini ketepatan/kualitas sistem yang berjalan dapat menggantikan posisi pemilik, sehingga pemilik tidak diharuskan mengikatkan waktunya dengan tempat kerjanya. Contohnya begini, Anto memiliki sebuah bengkel dimana ada mekanik, kasir, dan pengawas. Dengan sebuah sistem menejemen yang tepat Anto dapat menjalankan bengkelnya tanpa harus meminta kehadirannya di tempat operasi bengkel tersebut. Penghasilan yang diterima Anto bersifat pasif. Yang artinya Anto tidak harus meluangkan waktu berkerja untuk mendapatkannya. Dengan waktunya yang lebih banyak Anto dapat merintis usaha baru, sehingga semakin besarlah bisnis Anto, dan semakin besarlah arus penghasilan yang akan ia terima.
Dengan melakukan wirausaha yang menggunakan sistem siapapun orangnya dapat memiliki penghasilan tanpa harus menukarkan waktunya. Oleh karena itu orang tersebut dapat melakukan apapun yang dia mau 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, dengan penghasilan yang terus-menerus mengalir.
Terdapat tiga macam bentuk wirausaha dengan sistem:
•    Konglomerasi,
•    Franchising,
•    dan Network Marketing.
Ketiga wirausaha di atas sudah tentu tidak akan bisa di jalankan apabila tidak memiliki sistem yang kokoh. Ini adalah jenis wirausaha yang saya maksudkan sebagai jalan keluar dari berbagai permasalahan pekerjaan professional.

Neils Bohr Story : Breaking the Box

July 3rd, 2007 by fuhrer

Didalam ujian Fisika di Universitas Copenhagen
seorang dosen penguji mengajukan pertanyaan
kepada salah seorang mahasiswanya :


"Jelaskan bagaimana mengukur tinggi suatu
bangunan pencakar langit dengan menggunakan
sebuah barometer."

Mahasiswa tersebut menjawab: "Ikatlah leher
barometer itu dengan seutas tali panjang, lalu
turunkan barometer dari pucuk gedung pencakar
langit sampai menyentuh tanah. Panjang tali
ditambah panjang barometer akan sama dengan
tinggi pencakar langit."

Jawaban yang luar biasa "orisinil" ini membuat
dosen penguji begitu geram. Akibatnya si
mahasiswa langsung tidak diluluskan.

Si mahasiswa naik banding, karena menurutnya
kebenaran atas jawaban itu tidak bisa disangkal.
Kemudian universitas menunjuk seorang arbiter
yang independen untuk memutuskan kasus itu.
Arbiter menyatakan bahwa jawaban itu memang
benar dan tidak bisa disangkal, hanya saja tidak
memperlihatkan secuil pun pengetahuan mengenai
ilmu fisika.

Untuk mengatasi permasalahan itu, disepakati
untuk memanggil si mahasiswa, dan memberinya
waktu enam menit untuk memberikan jawaban
verbal yang menunjukkan latar belakang
pengetahuannya mengenai prinsip-prinsip dasar
ilmu fisika. Selama lima menit, si mahasiswa
duduk tepekur, dahinya berkerut. Arbiter
mengingatkan bahwa waktu sudah hampir habis.

Mahasiswa itu menjawab bahwa ia sudah memiliki
berbagai jawaban yang sangat relevan, tetapi tidak
bisa memutuskan yang mana yang akan dipakai.
Saat diingatkan arbiter untuk bersegera
memberikan jawaban, si mahasiswa menjelaskan
sebagai berikut:

"Pertama-tama, ambillah barometer dan bawalah
sampai ke atap pencakar langit. Lemparkan ke
tanah, lalu ukurlah waktu yang dibutuhkan untuk
mencapai tanah. Ketinggian bangunan bisa
dihitung dari rumus H = 0.5x g x t kwadrat. Tetapi
khan sayang barometernya jadi pecah."

"Atau, bila matahari sedang bersinar, anda bisa
mengukur tinggi barometer, tegakkan di atas
tanah, dan ukurlah panjang bayangannya. Setelah
itu, ukurlah panjang bayangan pencakar langit,
sehingga hanya perlu perhitungan aritmatika
proporsional secara sederhana untuk menetapkan
ketinggian pencakar langitnya."

"Tapi kalau anda betul-betul ingin jawaban ilmiah,
anda bisa mengikat seutas tali pendek pada
barometer dan menggoyangkannya seperti
pendulum. Mula-mula lakukan itu di permukaan
tanah lalu di atas pencakar langit. Ketinggian
pencakar langit bisa dihitung atas dasar perbedaan
kekuatan gravitasi T = 2 phi akar dari (l/g)."

"Atau kalau pencakar langitnya memiliki tangga
darurat di bagian luar, akan mudah sekali untuk
menaiki tangga, lalu menggunakan panjangnya
barometer sebagai satuan ukuran pada dinding
bangunan, sehingga tinggi pencakar langit =
penjumlahan seluruh satuan barometernya pada
dinding pencakar langit."

"Bila anda hanya ingin membosankan dan
bersikap ortodoks, tentunya anda akan
menggunakan barometer untuk mengukur tekanan
udara pada atap pencakar langit dan di permukaan
tanah, lalu mengkonversikan perbedaannya dari
milibar ke satuan panjang untuk memperoleh
ketinggian bangunan."

"Tetapi karena kita senantiasa ditekankan agar
menggunakan kebebasan berpikir dan menerapkan
metoda-metoda ilmiah, tentunya cara paling tepat
adalah mengetuk pintu pengelola gedung dan
mengatakan: ‘Bila anda menginginkan barometer
baru yang cantik ini, saya akan memberikannya
pada anda jika anda memberitahukan kepada saya
berapa ketinggian pencakar langit ini."

Melihat jawaban yang diberikan kepada arbiter,
semua orang sadar bahwa mahasiswa ini tidak
bodoh, tetapi pertanyaan penguji telah
menggiringnya kearah jawaban yang tidak
dikehendaki penguji.

Mahasiswa itu adalah Niels Bohr, warga Denmark
genius yang kelak akan memenangkan hadiah
Nobel untuk bidang Fisika.

Surat dari Diriku kepada Diriku

May 11th, 2007 by fuhrer

Kepada Evan Sugiarto di tahun 2007,

Hi, perkenalkan saya adalah dirimu di tahun 2008. Ini
adalah bulan September, dan aku sedang menikmati perjaalan ALS di Tokyo. Iya,
benar, aku sedang di Tokyo sekarang. Sekarang sudah jam 02.00 dini hari, aku
baru saja kembali dari kamar mama. Hei! di sini, masing-masing dari kita
mendapat satu kamar loh…

Sehabis makan malam tadi, kami satu grup, Anton, Pai, Pak
Ari, Roni, Rei, Saly, Meilani, dan mama, berkumpul bercerita-cerita tentang
perjalanan kali ini. Tak lupa juga kami berduka cita bagi mereka yang telah
menolak usaha ini. Hahaha…

Tadi siang aku sampai di Jepang, kemudian kami langsung
dibawa ke hotel untuk beristirahat. Lewat jendela kamar, aku melihat
pohon-pohon sakura bermekaran. Kesibukan kota Tokyo juga tak lepas dari
pandangan. Di sini bising sekali, seperti layaknya Jakarta. Hanya saja di sini
tidak macet, karena lebih banyak orang yang berjalan kaki dan menggunakan
angkutan umum. Mereka terlihat semangat sekali, mereka berjalan cepat, dan
mereka terlihat lebih sehat.

Kunjungan pertama kami berlasngsung tadi siang. Kami
mengunjungi Tokyo Tower. Itu adalah monasnya Tokyo. Mirip-mirip seperti menara
Eifel cuman agak lebih pendek. Sebuah pemandangan yang mengejutkan ketika aku
tiba di puncaknya. Aku melihat gunung Fuji..!! Ya gunung Fuji yang terkenal
itu. Gunung itu bewarna biru indah dengan salju menutupi puncaknya. Jarang
sekali aku bisa melihat pemandangan seperti ini.

Sepulangnya dari Tokyo Tower kami menikmati makan malam.
Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, di dalam menu pasti ada sushi-nya. Dan..
memang benar sushinya ada, banyak lagi. Seandai saja Endo juga bisa hadir di
sini, dia pasti akan sangat gembira sekali. Setelah menghabiskan sekitar
duabelas rol sushi, akupun kekeyangan, dan segera kembali ke kamar hotel.

Acara besok adalah menghadiri seminar ALS, aku sebenarnya
sudah tidak sabar lagi untuk segera tidur dan bangun lagi. Tapi aku sempatkan
untuk menulis sepucuk surat untuk aku sendiri di tahun 2007. Aku ingin
mengatakan bahwa acara kali ini sungguh sangat sangat menyenangkan sekali, dan
aku yakin kamu rela untuk bekerja sepuluhkali lipat asal bisa hadir di sini,
karena itu yang sedang aku rasakan sekarang.

Aku hanya ingin berbagi cerita tentang apa yang sudah aku
kerjakan sehingga aku berhasil hadir di ALS Tokyo kali ini. Aku bersyukur
kepada Tuhan karena tetap melindungi impianku. Olehkarena itu aku berpesan
tolong…jangan menyerah terlalu cepat, tetapkan gol-gol baru, dan bangun
impian lagi.

Aku juga bersyukur karena aku telah bekerja keras
sehingga bisa menjadi SP di bulan Mei 2007, karena saat itulah momentum
terjalin, dan momentum inilah yang mempermudah aku mencapai kulifikasi Q12 di
tahun fiskal 2007-2008. Olehkarena itu aku berpesan agar kamu mau bekerja
sekali lagi lebih keras dari sebelumnya, kejar vitalsign SP di bulan Mei,
konsultasi setiap minggu, bantu juga orang-orang yang tepat, ciptakan momentum,
tingkatkan jumlah InfoNite, BBS, NBT, dan jangan lupa untuk berdoa setiap hari
setiap malam. Aku tahu ini akan berhasil, karena itulah yang sudah aku lakukan.Fotojapan

Berikut aku sertakan foto yang baru saja aku ambil tadi
malam. Tugas kamu adalah memasukkan wajah kamu ke dalamnya! Aku tahu kamu pasti
bisa, Evan! Aku tahu kamu juga yakin akan hal itu. Sampai jumpa di Tokyo 2008!

Tujuh Pedoman Membuat Afirmasi Efektif

April 27th, 2007 by fuhrer

Halo teman-teman akademi, pertama-tama saya bersyukur karena ternyata masih bisa berbagi sharing dengan kalian semua, yang kebetulan punya profil di FS, yang juga tergabung dalam Team 21 Academy. Artikel di bawah ini saya tujukan untuk kalian semua. (terutama yang ada di SURABAYAAA itu..)

Seperti yang kita semua tahu, setiap hari, setiap pagi, setiap malam kita semua selalu melaukukan afirmasi terhadap gol-gol yang ingin kita capai. Tetapi kadangkala, afirmasi yang dibuat masih kurang efektif, karena ada kesalahan di  sana-sini. Hal-hal dibawah ini sebenarnya sudah ada di kaset-kaset, tapi aku ingin merumuskannya lebih lanjut sehingga lebih mudah untuk dipelajari dan dilakukan.

Oya, bisa jadi pedoman afirmasi di bawah ini masih ada yang kurang, bagi kalian yang menyadarinya tolong beri tahukan kekurangannya lewat kolom komen di bawah.
Untuk sementara ini, segini dulu deh…selamat mencoba dan semoga ini bisa meningkatkan bisnis kalian. See you at the Top!

7 PEDOMAN MEMBUAT AFRIMASI EFEKTIF:

1. MULAILAH DENGAN KATA "Aku"
Kata Aku adalah kata yang paling ampuh. Pikiran bawah sadar menafsirkan setiap kalimat yang dimulai dengan kata Aku sebagai sebuah perintah-sebuah petunjuk untuk mewujudkannya.

2. GUNAKAN KETRANGAN WAKTU SEKARANG
Gambarkan apa yang Anda inginkan seolah Anda sudah memperolehnya, seolah hal itu sudah tercapai.
ex:
salah : "Aku akan punya Kijang Inova baru bewarna silver."
benar: "Aku sedang menikmati mengendarai Kijang Inova baru bewarna silver."

3. NYATAKAN DALAM KALIMAT POSITIF. TEGASKAN APA YANG ANDA INGINKAN BUKAN APA YANG TIDAK ANDA INGINKAN.
Nyatakan afirmasi Anda dalam kalimat positif. Pikiran bawah sadar tidak mendengar kata tidak.
Hal itu berarti pernyataan "Jangan bayangkan seekor kucing hitam!" didengar sebagai "Bayangkan seekor kucing hitam!"
Frase "Aku tidak takut terbang" membangkitkan gambaran takut terbang. Sementara frase "Aku menikmati penerbangan" membangkitkan rasa kenikmatan/kesenangan.
ex:
salah : "Saya sudah tidak takut menyelam."
benar : "Saya sangat menikmati menyelam."

4. SINGKAT SAJA
Afirmasi itu harus cukup pendek dan cukup mudah untuk diingat.

5. BUAT SPESIFIK
Afirmasi tidak jelas menciptakan hasil tidak jelas.
ex:
salah : "Saya membeli rumah baru."
benar : "Siang ini, saya melunasi vila baru seluas dua hektar di Trawas."

6. SERTAKAN KONDISI EMOSIONAL
Sertakan kondisi emosional yang Anda rasakan ketika Anda sudah mencapai tujuan Anda. Beberapa kata yang digunakan adalah : menikmati, penuh sukacita, dengan bangga, merayakan, dengan senang, bersemangat, penuh kemenangan.
ex:
salah : "Aku mempertahankan berat idealku 45kilo."
benar : "Aku merasa sangat lincah dan enerjik dengan berat 45kilo."

7. TAMBAHKAN "atau sesuatu yang lebih baik."
Ketika afirmasi Anda ditujukan untuk memperoleh sesuatu yang khusus selalu tambahkan kata-kata "atau sesuatu yang lebih baik."
Kenapa? karena kadang kriteria yang kita inginkan muncul dari pengalaman terbatas kita. Kadang ada seuatu yang jauh lebih baik dari apa yang bisa kita capai, jadi sertakan frase ini dalam kalimat afirmasi Anda.
ex: "Saya sedang menikmati kehidupan di vila pantaiku yang indah di kepulauan Karibia, atau di tempat yang lebih baik."

Dunia ini Sempit

January 25th, 2007 by fuhrer

Dunia ini sempit, begitulah kata pepatah. Hmm.. pernah gak diantara kamu yang sering berkenalan dengan teman baru, tapi eh, ternyata teman tersebut adalah temannya saudara dekat kamu; ini cuman salah satu contoh. Yang mau saya katakan adalah kamu sebenarnya memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat sekali dengan orang yang bahkan belum pernah kamu kenal sebelumnya.

Sebuah penelitian di Amerika membuktikan bahwa kamu bisa mengenal semua orang di dunia ini SIAPAPUN itu. Jarak kamu dengan mereka hanyalah 6 orang. Maksud saya adalah penelitian ini menyimpulkan bahwa kamu dapat mengenal siapapun di dunia ini melewati sebuah rantai relasi yang terdiri dari maksimum enam orang. (Dengan kata lain juga, jarak kamu, siapapun kamu, dapat mengenal saya melewati maksimum 6 orang.)

Begini contohnya: Saya memiliki paman, paman saya bekerja dengan seorang teknisi komputer, teknisi komputer ini pernah berkenalan dengan seorang producer film, seorang producer film ini akrab dengan seorang artis, artis ini punya saudara seorang jaksa, jaksa ini teman baik dengan seorang menteri RI, dan menteri RI ini berhubungan dekat dengan Pak Presiden.
Rantai relasinya seperti ini: Saya - Paman(1) - Teknisi(2) - Producer(3) - Artis(4) - Jaksa(5) - Menteri(6) - Presiden!

Masuk akal bukan? Berikut pembuktian matematis sederhana-nya:

Katakan saja selama kamu hidup, kamu mengenal 25 orang yang tidak saling mengenal satu sama lain. Dan masing-masing dari 25 orang ini memiliki 25 orang teman yang juga tidak kenal satu sama lain, dst.
Dengan teori rantai relasi 6 orang, itu berarti total potensi seluruh orang yang kamu kenal adalah 25^7 = 6.103.515.625

Jumlah potensi seluruh orang yang kamu kenal mencapai 6,1 milyar manusia. Angka ini mendekati angka jumlah populasi di dunia ini yaitu sekitar 6,7 milyar manusia.

Welcome to My Paradise

January 18th, 2007 by fuhrer

Welcome_to_my_paradise
Akhirnya ketemu juga lagu ini setelah sekian lamanya. Ini adalah lagu reggae karya Dr.Steven dan Coconut Treez. Happy Listening!

Music: Welcome To My Paradise.mp3

Lyrics:

Welcome to my paradise

*Bridge

Come and take a look out through my eyes
And you decide
Why people act this way
People theiving, fighting, telling lies
They’re criticize and hate each other
Natures colours all have changes some how
The seas are brown. The skies are thick and grey
All of these things make me feel so down
And think about finding my own place

*Bridge

a place where we can dance and drink
a place where we can share some weed
a place where there’s no bull shit
and everybody can come

**Reff

Welcome to my paradise
Where the sky so blue
Where the sunshine so bright
Welcome to my paradise
Where you can be free
Where the party never ending

Is Network Marketing Just a Scam?

November 18th, 2006 by fuhrer

Q: Some friends continue to try to recruit me into network marketing deals that seem like some type of money game or pyramid. Other friends tell me they’re illegal and I’ll get into trouble. How do I know what’s legal and legitimate?

A: To help you understand what network marketing is, I must first explain what it isn’t. First, network marketing isn’t a pyramid scheme. Pyramids are programs similar to chain letters where people just invest money based on the promise that other people will put in money that will filtrate back to them and somehow, they’ll get rich. A pyramid is strictly a money game and has no basis in real commerce. Normally, there’s no product involved at all, just money changing hands. Modern-day pyramids may have a product, but it’s clearly there just to disguise the money game.

Network marketing is a legitimate business. First, it’s based on providing people with real, legitimate products they need and want at a fair price. While some people do make a lot of money through network marketing, their financial benefit is always the result of their own dedicated efforts in building an organization that sells real products and services.

Pyramids are illegal and are based on taking advantage of people. For a person to actually make money in a pyramid scheme, someone else has to lose money. But in network marketing, each person can multiply his or her efforts, skills and talents by helping others be successful.

Network marketing has proved itself as part of the new economy and a preferred way to do business here and around the world.

Network marketing isn’t about taking advantage of your friends and relatives. Only a few years ago, network marketing meant retailing to, and sponsoring people from, your "warm list" of prospects. Although sharing the products or services and the opportunity with people you know is still the basic foundation of the business, today we see more people using sophisticated marketing techniques such as the Internet, conference calling and other long-distance sponsoring techniques to extend their network across the country.

Network marketing isn’t a get-rich-quick scheme. Of course some people do make large amounts of money very quickly. Many would say those people are lucky. But success in networking isn’t based on luck. (Unfortunately, money won’t sprout wings and fly into your bank account no matter what someone has promised you.) Success in network marketing is based on following some very basic yet dynamic principles.

Now let’s discuss what network marketing is. Network marketing is a serious business for serious people. It’s a proven system where the design, creation and expense the corporate team has gone through becomes a road map for your own success. Just follow the simple, proven and duplicable system that the good companies provide.

The real key is this: Network marketing is all about leverage. You can leverage your time and increase the number of hours of work effort on which you can be paid by sponsoring other people and earning a small income on their efforts. J. Paul Getty, who created one of the world’s greatest fortunes, said "I would rather make 1 percent on the efforts of 100 people than 100 percent on my own efforts."

This very basic concept is the cornerstone of network marketing.

For example, most successful people building a network marketing business do so in an organized method. They work a few dedicated hours each week, with each hour of effort serving as a building block for their long-term business growth. Then they sponsor other people and teach those people how to sell the company product and sponsor others who duplicate the process.

By helping the people you personally sponsor to sponsor others, you duplicate yourself. As this process continues, you create compound growth that can lead to hundreds or even thousands of people coming into your business. You leverage your time by helping others be successful and earn an income from all their efforts.

With network marketing, there are no big capital requirements, no geographical limitations, no minimum quotas required and no special education or skills needed. Network marketing is a low-overhead, homebased business that can actually offer many of the tax advantages associated with owning your own business. Network marketing is a people-to-people business that can significantly expand your circle of friends. It’s a business that enables you to travel and have fun as well as enjoy the lifestyle that extra income can provide.

copyrighted from entrepreneur.com

Tentang Perubahan

October 17th, 2006 by fuhrer

Sejam yang lalu, saya baru saja selesai mengikuti Dynamic Living Seminar untuk yang ke-3 kalinya langsung dari kamar saya sendiri. Ada beberapa pelajaran penting yang saya bisa petik. Salah satunya adalah ini,

"Anda akan membayar harga untuk suatu perubahan. Tidak peduli apakah perubahan menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk"

Ini konsepnya:

Ketika Anda memutuskan untuk berubah menjadi lebih baik, yang berarti Anda sedang meninggalkan zona kenyamanan Anda menuju zona yang Anda mau, Anda akan merasakan sakit seketika itu juga. Kenapa? Karena memang sebelumnya, Anda tidak pernah berada pada ‘zona yang Anda mau’ tersebut.

Dan bila Anda memutuskan untuk berubah menjadi lebih buruk, yang berarti Anda memasuki lebih dalam zona kenyamanan Anda. Anda tidak akan merasakan sakitnya seketika juga, tetapi rasa sakit itu akan muncul ketika Anda sudah terlambat menyadari bahwa Anda telah tenggelam terlalu jauh di dalam zona kenyamanan Anda.

Saya yakin beberapa dari Anda pasti ada yang nggak mudeng, alias gak ngerti.

Begini, pernah nggak selama Anda hidup pernah mendengar celetukan seperti "Jadi orang kaya itu susah." Kalimat ini benar sih, tapi banyak orang nggak mengatakannya dengan lengkap "Jadi orang kaya itu susah, apalagi jadi orang miskin." no offense

Ada harga yang harus dibayar untuk melakukan perubahan. Harga untuk berubah menjadi lebih baik tidaklah berbeda dengan harga untuk berubah menjadi lebih buruk.

Saya yakin masih ada diantara Anda yang masih juga belum ngerti.
Hmm.. gpp seh

Bagaimana Mengelola Keuangan Mahasiswa (selesai)

September 13th, 2006 by fuhrer

        Pernah tidak Anda merasa bahwa duit
di dompet selalu abis melulu? dan setiap pertengahan bulan meminta
jatah tambahan orang tua, atau mungkin bagi pengeluarannya yang
melebihi dari yang didapat (wah! yang ini mah keterlaluan), bahkan sampai minta hutang ke kanan-kiri.
        Kuncinya bukan seberapa besar dana yang kita terima, tetapi
bagaimana kita bisa mengelolanya dengan baik.
Ada teman saya yang
tinggal di Jakarta hidup dengan uang 1juta rupiah saja, ada juga yang
hanya 800 ribu, bahkan mereka tetap bisa menyisihkan sebagian uangnya
untuk ditabung. Tetapi ada juga yang pemasukan sebulannya hingga 7juta
sampai 10juta, dengan keadaan dompet di akhir bulannya kosong melompong
(bahkan gak sampe akhir bulan udah habis).
      Keuangan yang kita bicarakan untuk dikelola
nantinya adalah pemasukan yang dikuasai sepenuhnya oleh kehendak Anda,
dalam hal ini adalah pemasukan yang biasa kita terima sebagai uang
jajan, uang makan, dll. Bukan uang untuk bayar kuliah, bayar sewa kos,
sewa kontrak, pajak kendaraan dan sebagainya. Hanya sebatas uang yang
Anda kuasai penggunannya.
        Kiat- kiat yang saya berikan nanti sama sekali tidak bertujuan untuk hanya sekedar ‘berhemat’, tetapi juga bagaimana kita bisa meningkatkan gaya hidup kita walaupun dengan pemasukan yang terbatas.
        Berikut adalah solusi untuk mengelola
keuangan Anda berdasarkan pengalaman pribadi saya menjalani hidup
sebagai mahasiswa…cieee

Berikut adalah 5 kiat mengelola keuangan sebagai mahasiswa:

1. Jangan pernah Berpikir bahwa Semua ini sudah Sewajarnya
        Jangan sekali-kali berpikir bahwa pemasukan
yang selama ini didapat dari orangtua akan tetap dari waktu ke waktu.
Maksud saya adalah jangan pernah berpikir bahwa bulan depan akan ada
lagi uang jatah dari orang tua. Seringkali saya pernah mendengar
beberapa kalimat dari teman saya, "bulan ini jangan beli apa-apa deh, kan mau ganti HP baru", memang benar kalau ingin membeli sesuatu kita harus bersakit-sakit dahulu, tapi apa benar ‘jangan beli apa-apa
nya cuman sebulan.’ Ingat diatas langit masih ada langit, kita tak tahu
apa yang akan terjadi besok, berbahaya sekali kalau kita menganggap
bahwa bulan depan akan ada jatah lagi. Bagaimana kalau setelah mereka
membeli HP baru tersebut, kemudian mereka harus menjualnya kembali
bulan depan untuk membiayai hidup mereka sendiri karena orangtua mereka
‘tidak sanggup lagi.’
        Kemudian ada
yang menyangkal dalam hati, "Lho! itukan mereka, bukan saya! Orang tua
saya tajir kok" atau "Lho! itukan kewajiban orangtua membiayai
kebutuhan anaknya!" atau "Jangan pernah berpikir yang tidak -tidak,
serahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa deh!" Ingat Yang Maha Kuasa
memang menentukan nasib tetapi kitalah yang memilih seperti apa nasib
kita nantinya.
        Kesimpulannya adalah
semua bisa terjadi, melakukan persiapan lebih baik daripada tidak sama
sekali.

2. Bagi Pemasukan Anda ke dalam 3 Kategori
        Rencanakan keuangan Anda dengan melakukan pemisahan:
                1. Dana Tabungan
                2. Dana Konsumtif
                3. Dana Investasi

        Ada teman saya berkata "Tapi yang saya dapat hanya
cukup untuk membeli kebutuhan sehari- hari, ibu saya tidak pernah
memberi lebih untuk menabung, apalagi investasi."
        Pertanyaan saya kepadanya selanjutnya adalah
"Memangnya kalau nanti kerja, bos Anda mau memberi lebih untuk supaya
kamu bisa menabung dan investasi?"
      
Kemudian teman saya berkata ,"Saya sebulan hanya mendapat 1juta, apakah
saya harus menyisihkan 300ribu untuk ditabung, 300ribu lagi untuk di
investasikan, baru sisanya untuk kebutuhan sehari-hari? mana cukup!"
        Jawaban saya adalah "Anda tidak perlu membagi
pemasukan Anda menjadi 3 bagian, maksud saya adalah bagi dalam 3
kategori, dimana jumlahnya tidak harus sama besar." Ooooo..
        "Jadi Anda bisa menabung sebesar 100ribu, kemudian
investasi 200ribu, dan sisanya untuk kebutuhan sehari-hari."
        Jadi, langkah pertama adalah tentukan dulu berapa
besar pemasukan bagi tiap- tiap kategori Dana. Ini adalah contoh ratio
yang saya gunakan dalam membagi pemasukkan saya, 5% ditabung, 20%
diinvestasikan, dan sisanya 75% untuk dikonsumsi.

        Berikut kita akan membahas satu- persatu 3 kegori tersebut:
            1. Dana Tabungan                   
                  Dana
tabungan ini nantinya digunakan sebagai dana cadangan, yang akan kita
pakai pada saat ‘darurat‘ atau ‘urgent’. Memang kita
tidak akan pernah tahu kapan saat darurat ini menghampiri kita, tapi
dana cadangan tetap harus punya. Prinsip yang digunakan sama seperti
bila kita membeli payung. Tentu sebelumnya kita tidak akan pernah tahu
kapan sebaiknya payung itu digunakan? Kenapa? Karena kita tidak akan
pernah tahu kapan hari hujan, kan? Kemudian apa yang biasa kita lakukan? Ya kita kan tetap membelinya, paling tidak kita punya. Nantinya payung tersebut kita taruh satu di rumah, dan satu payung lagi di mobil.
                  Keadaan ‘darurat‘ itu seperti apa sih?
                  Menurut saya, yang namanya keadaan ‘darurat‘ adalah pada saat bila Anda tidak menyelesaikan sesuatu saat itu juga, Anda akan berada dalam MASALAH BESAR!! Misalnya seperti: bayar biaya rumah sakit, bayar hutang rentenir, bayar biaya perbaikan mobil (karena takut lapor orangtua..),
atau hal- hal lainnya yang mungkin Anda sendiri tidak pernah perkirakan
dan perhitungkan. Saya yakin Anda akan tahu sendiri seperti apa yang
disebut keadaan darurat itu, bila waktunya sudah tiba. Ingat,
mempersiapkan lebih baik daripada tidak sama sekali.
                  Besarnya?
                  Saya
sarankan Anda untuk menabung sebesar 5%-20% dari pemasukan yang Anda
terima. Tidak perlu terlalu besar, kuncinya disini adalah konsistensi
dan komitmen. Maksud saya adalah lakukan ini terus menerus, biarpun
jumlahnya kecil, itu tidak jadi masalah.
   
              Katakan dalam sebulannya
Anda berhasil menyisihkan dana sebesar Rp.50.000,- Ini berarti dalam
satu tahun Anda berhasil menyimpan sebesar Rp.600.000,- Dan dalam 5
tahun kedepan Anda sudah memiliki dana cadangan sebesar Rp.3juta. Wow!
jumlah ini nggak bisa dibilang kecil lho untuk tabungan, Anda
perlu bersyukur bisa memiliki tabungan. Banyak sekali orang, bahkan
mereka yang sudah bekerja, bergaji 5juta ke atas sebulannya tetapi pada
akhir bulan mereka tetap saja tidak memiliki dana untuk disimpan. Coba
saja tanyakan orang tua Anda "Berapa banyak teman orangtua Anda yang
memiliki nasib seperti itu?"      
             
   
         
        Permasalahan selanjutnya yang kita hadapi adalah
kebanyakan dari kita mengalami kepayahan dalam menabung, bingung
caranya, atau malah ‘niatnya sih mau nabung, tapi pas mau nabung kok dananya sudah gak ada?‘ Berikut adalah beberapa cara- cara kreatif untuk memperoleh dana tabungan:

        1. Lakukan penabungan pada hari Anda menerima ‘gaji’.
                  Seringkali teman- teman
menabung pada akhir bulan atau pada seminggu sebelum ‘gajian’ lagi, ini
namanya sama aja dengan "kalau ada sisa, gue tabung deh!"
Ingat, segera lakukan penabungan pada hari yang sama saat Anda menerima
pemasukan, ini mencegah Anda dari berbagai godaan  keuangan selama
sebulan.
        2. Beli celengan
                  Jangan dikira celengan hanya untuk anak kecil, kita ternyata juga perlu. Mensetorkan
uang ke celengan jauh lebih praktis dari pada bila kita harus bolak-
balik ke Bank. Lagipula Anda bisa kreatif dalam menambah tabungan Anda.
Ini adalah cara baru menabung yang saya coba sejak beberapa bulan lalu,
sangat mengasyikkan apalagi ketika Anda menghitung berapa jumlah uang
yang berhasil Anda tabung dalam sebulannya. Begini caranya, setiap kali
saya mendapati pecahan uang Rp.5.000,- di dalam dompet, langsung aja
masukin ke celengan. Begitu ada Rp.5.000,- lagi, masukin lagi, begitu
juga seterusnya.
        3. Jangan remehkan Uang Receh
                  Benci dengan uang receh?
Takut dompet Anda berat? Jangan tinggalkan itu di restoran, jangan
tinggalkan di meja pembayaran, jangan tukarkan dengan permen, kumpulkan
semua dirumah, masukkan kedalam toples dan kirimkan ke alamat saya. Huaahuahua
                  Jangan mentang- mentang
uang kertas lebih ringan, lebih bagus, dan uang receh lebih bau, lebih
berat, lebih kotor. Sayangnya sebagian besar dari kita, para mahasiswa,
belum merasakan bekerja bersusah- payah untuk mendapatkan uang tersebut.
                  Mari kita hitung berapa besar potensi uang receh
sebenarnya, misalkan saja Anda bertransaksi sesuatu dan menerima
kembalian uang receh sebesar Rp.200,- kemudian kalikan dengan berapa
kali Anda bertransaksi dalam sehari,  katakan 3 kali transaksi (untuk bayar makan, bayar tol, bayar parkir, dsb),
berarti seharinya Anda menerima uang receh sebesar Rp.600,- Jumlahkan
uang tersebut dalam sebulan Rp.18.000,- Jumlahkan lagi hingga setahun
Rp.216.000,- WOw! Jumlah yang tidak sedikit, Anda bisa punya sepatu
baru, atau tas baru hanya dengan uang receh.

             2. Dana Konsumtif
                  Penggunaan
Dana Konsumtif ini adalah sesederhana untuk membeli barang- barang
kebutuhan kita sehari- hari, misalnya untuk makan, untuk beli bensin,
beli pulsa, beli sabun, beli peralatan kuliah, bayar parkir, bayar tol,
termasuk juga teraktir pacar makan. Hehehehe… Saran saya adalah jangan sekali- kali mentraktir pacar (apalagi calon pacar) dengan Dana Tabungan ataupun Dana Investasi. Pacar bukanlah keadaan ‘darurat‘,
dimana kalau kita kehilangan, kita akan mengalami masalah BESAR. Pacar
juga bukan barang investasi, dimana kalau tidak menanamkan sejumlah
dana, maka hubungan Anda akan hilang. Welleh weleh weleeeeh..
                  Cukup sudah mengenai per-pacaran, kita kembali ke topik. Hanya di dalam Dana Konsumtif inilah kita bisa melakukan tindakan yang namanya ‘BERHEMAT’.  Jangan
melakukan penghematan pada sektor Dana lainnya, kecuali Dana Konsumtif.
Hemat menurut saya adalah bukan berarti setiap hari Anda harus
menyantap IndoMie pagi-siang-malam, hemat bukan juga berarti harus
menderita karenanya. Hemat menurut saya adalah membeli barang benar dengan benar. Maksud
saya adalah Anda mampu membedakan mana yang perlu Anda beli dengan yang
ingin Anda beli, pembahasan lebih detailnya ada pada kiat nomor 3.
                  Dibandingkan dengan dana- dana yang lain, dana ini adalah yang terburuk sifatnya.
                  Kenapa ‘buruk?
                  Karena dana ini tidak bisa ‘beranak‘ atau istilah kerennya doodads.
Maksud saya adalah seperti ini, misalkan pada awal bulan Anda menabung
di Bank sebesar Rp.5juta, maka pada akhir bulan saldo Anda akan ‘beranak
menjadi Rp.5.040.000,- Dan bila pada bulan berikutnya Anda tingkatkan
tabungan Anda mencapai Rp.10juta, maka pada akhir bulan tersebut Anda
akan mendapati saldo tabungan Anda sebesar Rp.10.080.000,-
Kesimpulannya adalah semakin besar Anda menabung di Bank maka semakin
besar pula kemampuan uang tersebut untuk ‘beranak’
                  
Tetapi
hal ini tidak akan terjadi pada Dana Konsumtif. Tidak peduli seberapa
besar Dana Konsumtif yang Anda miliki, karena tujuannya untuk
dikonsumsi, maka pada akhir bulan jumlah saldonya akan kembali menjadi
Rp.0,- nol. Kesimpulannya adalah semakin sedikit Dana Konsumtif Anda, maka semakin baguslah keadaan keuangan Anda.
                  Kalau begitu
kenapa tidak dihilangkan saja sektor Dana Konsumtif ini?
                  Sekali lagi,
Dana Konsumtif digunakan untuk membiayai kebutuhan sehari- hari kita.
Kita tidak bisa lepas dari yang satu ini. Sepertinya kita nggak butuh, tapi ya nggak juga. Yang bisa kita lakukan adalah dengan mengoptimalkannya dengan cara- cara yang nantinya dibahas pada kiat nomor 3.

            3. Dana Investasi
                  Dana Investasi adalah dana yang digunakan untuk diputar ke dalam suatu usaha, dimana nantinya usaha kita bisa memberikan penghasilan tambahan bagi kita. Dana Investasi inilah yang menjadi kunci dalam kiat- kiat yang saya berikan, dimana kita bisa meningkatkan gaya hidup dengan sumber pemasukan yang terbatas.
Dana Investasi jugalah yang nantinya bisa memberikan apa- apa yang kita
inginkan selain apa yang kita perlukan. Dana investasi inilah yang
menjadi payung masa depan Anda, dana ini adalah Asuransi keuangan Anda yang sebenarnya.
                  Untuk
menentukan seberapa besar dana yang perlu Anda investasikan per
bulannya, tergantung dari apa yang nantinya Anda investasikan.
Dan jangan lupa untuk tetap memisahkannya dari dompet Anda, tapi juga
jangan masukkan ke celengan. Simpan di tempat lain, masukkan ke amplop,
taruh di lemari, kunci rapat- rapat. Karena itu adalah tiket masa depan
Anda.
            
     Mengenai investasi lebih lanjut akan dijabarkan pada kiat nomor
4, tetapi yang jelas Anda tetap perlu menyisihkan sebagian dana untuk
diinvestasikan.

3. Bedakan antara yang ‘Perlu Anda Beli’ dengan yang ‘Ingin Anda Beli’
       
Pernah
ke pusat perbelanjaan? Mal, plaza, dan sebagainya? Lihat berapa banyak
orang yang menawarkan barangnya kepada Anda. Mulai dari SPG- SPG
cantik, diskon gede-gedean, etalase yang disusun rapi, tatanan
barang, desain produk nan indah, pemajangan iklan, penyebaran brosur.
Apapun yang mereka lakukan adalah semata- mata untuk memperebutkan uang
yang Anda miliki. Saran saya hanya satu, Jika Anda tidak tahu apa yang akan Anda beli, Jangan sekali- kali masuk ke pusat perbelanjaan. it’s dangerous…
       Pernah tidak Anda masuk ke salah satu outlet
kemudian melihat bahwa barang yang selama ini Anda idamkan ternyata
sedang didiskon 50%. Wow! Lalu apa yang Anda lakukan
setelahnya? kebanyakan orang termasuk saya =D dan teman- teman saya
lebih memilih untuk membelinya tanpa berpikir panjang lagi. Padahal
uang tinggal 100ribu dan ini masih tanggal 20. Hueuheuhe..
      Untuk mengantisipasi hal ini, maka kita perlu
membuat daftar pembelian barang- barang antara yang ‘Perlu Anda Beli’ dengan yang ‘Ingin Anda Beli.

Apa saja sih barang- barang yang termasuk ‘Perlu Anda Beli‘ ?
             Barang-barangnya akan bervariasi setiap
orang, tetapi mereka memiliki definisi yang serupa yaitu barang- barang yang pembeliannya tidak dapat ditunda, dan tidak dapat di gantikan. Contohnya
jika Anda seorang mahasiswa yang berbakat dan berniat serius di dalam
dunia musik, maka yang ‘Perlu Anda Beli’ adalah peralatan- peralatan
musik, buku- buku musik, ikut les musik, dan tentunya tidak lupa juga
buku-buku pelajaran, fotokopi, pulsa, bensin/biaya transport, makanan.

             Barang- barang yang termasuk ‘Perlu Anda
Beli’ ini akan bisa berubah setiap bulannya, tergantung dari apa yang tidak dapat Anda tunda atau gantikan pembeliannya
dalam bulan tersebut. Maksud saya adalah misalkan, sepatu yang biasa
Anda kenakan sudah rusak dan tidak layak dipakai lagi, maka Anda dapat
memasukkan ‘Sepatu Baru‘ dalam daftar barang yang ‘Perlu Anda Beli’ bulan ini.

Kemudian, Apa saja sih barang- barang yang termasuk ‘Ingin Anda Beli’ ?
             Barang- barang yang termasuk dalam daftar ini
juga bervariasi setiap orang, tetapi mereka memiliki definisi yang sama
yaitu barang- barang yang pembeliannya tidak mendesak, dan terdapat banyak sekali penggantinya.
Umumnya adalah seperti, rokok, HP baru, tas baru, laptop, baju baru,
ngopi di Starbucks, member fitness, member spa, dan masih banyak lagi.

             "Lho! Fitness kan penting, buat jaga kesehatan? kenapa masuk daftar yang ‘Ingin Anda Beli’ ?"
             Iya, memang benar fitness baik untuk
kesehatan, tetapi sekali lagi, ini semua tergantung dari kebutuhan
Anda. Maksud saya adalah kalau Anda seorang olahragawan dimana kalau
Anda tidak fitness maka badan Anda akan loyo semua dan
berpengaruh bagi prestasi olahraga Anda, maka Anda tidak perlu
memasukannya ke dalam daftar barang yang ‘Ingin Anda Beli’, malahan
harus dimasukkan ke daftar barang ‘Perlu Anda Beli’. Tapi kalau Anda
hanya sebagai mahasiswa, saya rasa kebutuhan akan buku-buku pelajaran,
fotokopi, pulsa, bensin/biaya transport, dan makanan jauh lebih penting
daripada sekedar fitness. Lagipula untuk menjaga kesehatan
masih ada cara- cara lain yang lebih murah dan mengasyikan daripada
harus membayar biaya untuk fitness.
             "Memangnya kalau mahasiswa nggak boleh Fitness ya?"
      Bukannya nggak boleh, hanya saja sebelum Anda
membayar member fitness, Anda perlu memperhitungkan dahulu untuk
pemenuhan kebutuhan- kebutuhan akan barang yang ‘Perlu Anda Beli’ Kalau
memang ternyata masih ada sisa, dan itu cukup, Anda boleh saja menjadi
member fitness.
             Kesimpulannya adalah apapun yang ada di dalam daftar barang yang ‘Perlu Anda Beli‘ bulan ini, harus dipenuhi dahulu sebelum Anda mencoba memenuhi daftar barang yang ‘Ingin Anda Beli‘ bulan ini.

4. Lakukan Investasi dalam Usaha/Bisnis

Apa sih Investasi itu?
       Begini, mari kita analogikan dengan kegiatan bercocok- tanam.

       "Apa yang harus ditanam oleh petani untuk mendapatkan beras?"   

       Jawabannya tak lain adalah "BERAS juga."

       Itulah yang namanya prinsip investasi. Kita akan menuai apa yang kita tanam.
Bila kita menanam beras, maka kita akan menuai beras. Bila kita menanam
jagung, maka kita akan menuai jagung. Dan bila kita menanam uang, maka kita akan menuai uang juga. Uang yang akan kita investasikan ini berasal dari Dana Investasi yang sebelumnya sudah kita sisihkan terlebih dahulu.

 Apa saja sih macam- macam Investasi itu?
      
Kegiatan ber-investasi itu dikelompokkan menjadi 2 jenis besar, yang secara gampangnya saya sebut dengan:

       1. Investasi tanpa pemasukan
            Anda pastinya kenal dengan benda bernama ‘emas’
bukan? Begini, jika hari ini Anda membeli sebatang emas maka yang Anda
harapkan adalah nilai emas semakin naik. Hingga pada saat terntentu, Anda dapat menjualnya dan menerima sejumlah uang yang lebih besar daripada saat Anda membelinya.
            Emas adalah salahsatu contoh yang baik tentang investasi tanpa pemasukan.
Dan masih banyak contoh-contoh lainnya, seperti surat-surat
berharga(obligasi, saham), tanah, lukisan, perangko, dan masih banyak
lagi.
            Intinya adalah bahwa investasi tanpa pemasukan hanya akan dapat menghasilkan bila Anda menjual barang tersebut.
          Investasi semacam ini
tidak saya sarankan untuk dilakukan para mahasiswa, karena selain modal
pembelian barang investasi jenis ini terlampau mahal, dan untuk
menghasilkan, Anda diharuskan untuk menjual kembali barang investasi
tersebut, yang berarti bahwa Anda akan kehilangan sejumlah aset seiring
dengan bertumbuhnya pemasukan yang Anda dapat.

        2. Investasi dengan pemasukan
      

   Jenis investasi ini memiliki konsep yang sama sekali
berbeda dengan jenis investasi sebelumnya. Investasi ini memberikan
pemasukan seiring dengan bertumbuhnya nilai aset yang Anda miliki.
          
Begini
mudahnya, katakan si Joni membeli satu unit ruko untuk ia sewakan
dengan harga 2,5 juta sebulannya. Hal ini berarti bahwa pada bulan ke-2
dan bulan- bulan setelahnya, Joni akan mendapatkan pemasukan sebesar
2,5 juta sebulannya. Dan bila ia membeli satu unit lagi ruko pada bulan ke-2 untuk disewakan dengan harga yang sama, berarti
pada bulan ke-3 dan bulan- bulan setelahnya, Joni akan mendapat
pemasukan sebesar 5 juta.
      
    Kesimpulannya adalah semakin bayak ruko yang Joni
miliki, maka semakin banyak pemasukan yang Joni terima. Dan konsep
investasi inilah yang saya sarankan para mahasiswa untuk dilakukan.

     Bentuk investasinya?
          Bentuk Investasi dengan Pemasukan sering kita kenal dengan istilah berbisnis atau berusaha. Dimana yang dilakukan oleh para pebisnis atau pengusaha adalah membangun aset. Semakin banyak aset yang berhasil mereka bangun, maka semakin besarlah pemasukan yang mereka terima.
          Kegiatan berbisnis atau
berusaha ini sangat beragam. Maksud saya adalah SANGAT-SANGAT BANYAK
SEKALI JENISNYA…!!??
         
Anda bahkan dapat memilih jenis- jenis usaha/bisnis dalam hal
apapun yang Anda senangi.
      
   Bagi mereka yang senang dengan berkebun, mereka bisa
membuka usaha mulai dari beternak tanaman- tanaman hias, jasa desain
taman, berjualan peralatan kebun, jasa penyemprotan pestisida, dan
sebagainya.
          Bagi mereka yang senang dengan mobil,
mereka bisa membuka usaha mulai dari bengkel mobil, pemasangan audio,
mendesain body mobil, pengecatan/pengkilapan, jasa cuci mobil,
berjualan item interior, berjualan sabun cuci mobil, distribusi oli,
bahkan sampai berjualan asuransi, dan sebagainya.
            
Karena
begitu banyak jenis usaha yang dapat kita lakukan, maka pada poin
berikutnya saya akan memberikan beberapa tips dalam memilih usaha/bisnis bagaimana yang tepat untuk dilakukkan oleh para mahasiswa,

 Usha/Bisnis yang bagaimana yang ‘tepat’ kita lakukan?
       Seperti yang sudah saya
bahas sebelumnya bahwa, sebenarnya Anda dapat memilih usaha/bisnis
apapun yang Anda senangi. Sayangnya yang Anda senangi belum tentu tepat untuk Anda. Berikut ada 3 tips dalam memilih usaha yang tepat,

       1. Lakukan Usaha yang TIDAK menuntut Waktu Kuliah/Belajar
               Tentunya
Anda tidak akan mau kuliah Anda berantakan hanya karena Anda sedang
merintis sebuh usaha, bukan? Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah
tentukan dahulu kapan Anda kuliah, dan kapan Anda belajar. Sehingga
kemudian Anda bisa tahu kapan sebaiknya Anda meluangkan waktu untuk
menjalankan usaha Anda. 

       2. Lakukan Usaha yang memiliki Mentor
               
Kenapa
saya menyarankan Anda untuk memilih usaha yang memiliki mentor? atau
paling tidak ada orang yang mau membimbing Anda menjalankan usaha
tersebut? Begini, untuk membangun sebuah usaha yang sukses, apapun itu,
yang perlu Anda punyai adalah pengalaman membangunnya hingga berhasil.
Betul?
                Nah, sekarang Anda memiliki dua
pilihan. Pertama adalah Anda melakukannya sendiri, Anda amati sendiri,
Anda belajar sendiri, Anda jatuh- bangun, jatuh lagi, bangun lagi,
jatuh lagi, bangun lagi…, begitu seterusnya sampai Anda tahu resep
sukses yang sebenarnya. Ini bener lho, hampir bisa dikatakan tidak ada seorangpun didunia yang berhasil membangun usahanya dalam sekali coba. Ini sama halnya seperti Anda berjalan dengan mata tertutup tanpa ada yang membantu. Tentunya Anda akan kejedug dimana- mana, bukan?
                Pilihan kedua adalah Anda meminta
bantuan mentor, yaitu orang yang sudah berhasil dalam membangun usaha
yang sedang Anda jalani. Para mentor tentunya sudah mengalami
jatuh-bangun dalam usahanya sendiri. Dengan belajar dari pegalaman
orang yang lebih sukses, Anda tidak perlu lagi mengalami jatuh-bangun,
Anda menjadi tahu apa- apa saja yang sebaiknya dilakukan dan tidak
dilakukan, mata Anda tidak tertutup lagi, ada orang yang menggandeng
tangan Anda keluar dari kesesatan. Wow, bukankah ini lebih efektif menghemat modal, waktu, dan upaya, daripada harus mencari- cari cara sukses sendirian.

       3. Lakukan Usaha yang Bener
               
"Loh memangnya ada ya usaha yang nggak bener?"

                Buanyak
bangeet…
                Contohnya, pengedar narkotik, minuman
keras, usaha rentenir, taruhan (bola, kartu, apapun deh), terlibat money game, ngikutin kuis/undian berhadiah, dan masih banyak lagi.
          
     Sekali lagi,
bukannya saya melarang Anda melakukan salah satu usaha investasi
diatas. Tapi ya mbok mikir sedikit, sudah susah- susah ngumpulin dana investasi, ya jangan dipakai buat usaha yang nggak jelas nasibnya begitu.
      
Kenapa sih kita perlu Investasi?
       Ada banyak sekali alasan yang bisa saya berikan kenapa Anda perlu melakukan investasi. Tetapi hanya ada 2 hal yang terpenting "Kenapa kita, para mahasiswa, perlu melakukan investasi." Berikut adalah kedua alasan tersebut :

 

        1. Investasi untuk Belajar
      
        "This is the real world.
               You really have to give up what you like to get what you want."

               Belajar
nggak cuman dari kuliah saja, bukan? Disinilah wadah sebenarnya Anda
semua belajar menghadapi kehidupan yang sebenar- benarnya. Tidak ada
salahnya bila kita memulai lebih dulu daripada yang lain. Dengan begitu
kita sudah satu langkah lebih maju daripada rata- rata mahasiswa
lainnya.

        2. Investasi untuk Penghasilan Tambahan
               Pernah
tidak sekali- kali Anda berangan- angan untuk membeli tas baru, HP
baru, atau sekedar untuk makan di restoran tiap akhir minggu, atau
mentraktir pacar ke restoran mewah, atau mungkin, saya tahu, pastinya
ada diantara Anda ada yang ingin melakukan kegiatan beramal, atau bagi
mereka yang ingin melanjutkan studinya hingga S2/S3. Saya tidak tahu
apa keinginan Anda, yang sampai hari ini dengan terpaksa harus dipendam
karena keterbatasan dana. Segera tuliskan di buku, apa- apa saja yang
Anda inginkan selama ini. Kenapa? Karena Anda memiliki peluang untuk
mendapatkannya dengan melakukan suatu usaha.

              "Memang seberapa besar sih yang bisa dihasilkan oleh mahasiswa dengan usaha sampingannya?"
             
Jawabannya adalah tergantung dari usaha apa yang Anda lakukan, dan
seberapa besar kerja keras Anda membangunnya.
               Teman saya
ada yang beternak kelinci/hamster jenis tertentu, dimana setiap ekornya
dapat dijual ke petshop seharga Rp.50.000- Rp.100.000.
               Ada juga yang
beternak Anjing dari Jepang, yang tiap ekor anaknya dapat dijual ke
petshop seharga Rp2juta-an.
               Ada juga yang
membuka restoran, membuka jasa cuci mobil, membuka supermarket retail
dan sebagainya. Yang tentunya modalnya didapat karena join dengan orang
lain, dimana potensi penghasilan per bulannya mencapai puluhan jutaan
rupiah.
               Dan ada juga yang sedang merintis usaha network marketing.
Uniknya, modal yang diperlukan diusaha yang satu ini tidak terlalu
besar, tetapi memiliki potensi penghasilan per bulannya hingga puluhan
juta rupiah.

5. Hindari Berhutang
       Kiat yang terakhir adalah sebisa mungkin hindari berhutang. Saya tidak mengatakan bahwa berhutang itu tidak baik, hanya saja belum perlu.
Ingat selalu sebelum Anda berhutang, pastikan Anda konsultasi dengan
orang yang tepat, apakah hutang tersebut benar- benar diperlukan. Jika
iya, silahkan saja Anda berhutang.
       Tetapi dari pegalaman saya sebagai
mahasiswa, kebanyakan hutang adalah digunakan untuk hal- hal kosumtif.
Hal inilah yang sebenarnya berbahaya. Menggunakan hutang untuk pembelanjaan barang yang bersifat konsumtif sebaiknya dihindari.
        Kenapa? Alasanya sederhana. Karena barang konsumtif tidak akan menghasilkan return.
Ini adalah kebalikan dari investasi. Dimana kalau kita melakukan
investasi, kita mengeluarkan bertujuan agar kembali lebih banyak.
Tetapi tidak untuk hutang yang bersifat konsumtif. Tidak peduli berapa
banyak atau sedikit hutang Anda, yang jelas pada akhirnya Anda tetap
tidak menerima apa- apa selain tagihan hutang itu sendiri.
        Jika Anda sekarang sedang terlibat hutang dengan teman, atau siapapun, segera lunasi itu. Prioritaskan pemasukan Anda untuk membayar hutang terlebih dahulu.
Jangan sampai Anda kehilangan orang- orang yang Anda kenal, hanya
karena sekedar hutang. Ingat, relasi tidak dapat dibeli dengan uang.
Anda bisa mendapatkan uang kapanpun Anda mau, tapi tidak untuk relasi.
 

==============================================================================

n.b : Puji Tuhan. Akhirnya setelah 3 minggu, blog ini selesai juga. Awalnya sih nggak
kepikiran nulis beginian, tapi tiba- tiba saja muncul ide menarik untuk
bisa dibagikan kepada kawan- kawan sesama mahasiswa. Hehehehe…
Terima kasih buat teman- teman yang sudah memberikan komplimennya. Oh
ya, bagi teman- teman yang mau sharing pengalamannya dalam mengelola
keuangan pribadinya? atau yang mau bertanya ? kolom komen dibawah masih
terbuka untuk Anda.
Satu catatan lagi, semua kiat- kiat yang saya tuliskan diatas TIDAK HARUS Anda taati semua. Maksud saya adalah Anda tetap perlu konsultasi kepada orang yang paling mengerti keadaan keuangan pribadi Anda, dalam hal ini yaitu orang tua Anda.

Wew, anyway thank you for spending your time reading my blog.

See you at the top,

Evan